Dan Brown: The Lost Symbol
The moment - 4
* Melencolia
I, 1514
Albrecht
Durer
(ukiran
pada lempeng-perunggu)
Persegi
empat ajaib ke dalam kategori “matematika rekreasional”; beberapa orang masih
memperoleh kesenangan dari pencarian konfigurasi-konfigurasi “ajaib” baru. Sudoku
untuk orang-orang genius.
* Para kriptolog modern menggunakan cipher
tersegmentasi sepanjang waktu walaupun skema pengamanannya diciptakan di Yunani
kuno. Orang Yunani, ketika ingin menyimpan informasi rahasia, mengukirkan
informasi itu pada loh batu lempung, lalu memecah loh batu itu menjadi beberapa
bagian, dan menyimpan setiap bagiannya di lokasi yang terpisah. Ketika semua
bagian disatukan, barulah rahasia-rahasia itu bisa dibaca. Jenis loh batu
lempung berukir ini – disebut symbolon – pada kenyataannya merupakan
asal kata modern simbol.
* “Peter selalu bilang bahwa kau lelaki yang sangat
sulit untuk diyakinkan – seorang akademisi yang lebih menyukai bukti daripada
spekulasi.”
* Bellamy tersenyum sabar. “Pengetahuan
Persaudaraan Bebas telah membuatku sangat menghormati sesuatu yang melebihi
pemahaman manusia. Aku sudah belajar untuk tidak pernah menutup benakku
pada suatu gagasan, hanya karena gagasan itu tampak ajaib.”
* Kekayaan sudah biasa, tapi kebijakan adalah
langka – kekayaan tanpa kebijakan sering bisa berakhir dalam bencana.
* walaupun
tersegel dalam kubus selama lebih dari seabad, batu-puncak itu sama sekali
tidak pudar atau kusam. Emas menentang hukum entropis pelapukan; itu salah
satu alasan mengapa orang-orang kuno menganggapnya ajaib.
* “Secara simbolis,” jelas Langdon, “ini
merepresentasikan kegagalan manusia untuk mengubah kecerdasan manusia
menjadi kekuatan menyerupai-Tuhan. Dalam istilah alkimia, itu
merepresentasikan ketidakmampuan kita untuk mengubah timah menjadi emas.”
* Semua metamorfosis spiritual didahului oleh
metamorfosis fisik.
* Tubuh ini mendambakan apa yang didambakannya.
* Orang pintar selalu ditakuti oleh orang yang
kurang pintar.
* Yang memisahkan terang dari gelap hanyalah
darah.
* Semua
harapan bagi umat manusia sudah hilang. Mereka buta... berkeliaran tanpa
arah di dalam dunia yang tidak akan pernah mereka pahami.
* Tubuhku
hanyalah wadah bagi harta karunku yang terampuh... pikiranku.
* kepala katedral kembali menepuk-nepuk mulut.
“Saya ingatkan bahwa ada masa ketika orang-orang terpintar sekalipun menganggap
dunia ini datar. Karena, jika dunia ini bulat, lautan pasti akan tumpah.
Bayangkan bagaimana mereka akan mengejek Anda jika Anda menyatakan, ‘Bukan
hanya dunia ini bulat, melainkan juga ada kekuatan mistis tak terlihat yang
menahan segalanya agar tetap berada di permukaan dunia?’”
“Ada
perbedaan,” ujar Langdon, “antara keberadaan gravitasi... dan kemampuan
mengubah benda-benda dengan sentuhan tangan.”
* Dia terdiam, lalu berdeham. “Jika ingatan saya benar,
salah satu orang terpintar yang pernah ada menyatakan: “Sesuatu yang tidak
mampu kita pahami benar-benar ada. Di balik rahasia-rahasia alam masih terdapat
sesuatu yang subtil, tak teraba, dan tak terjelaskan. Penghormatan terhadap
kekuatan melebihi segala yang bisa dipahami ini adalah agamaku.’”
“Siapa
yang berkata begitu?” tanya Langdon. “Gandhi?”
“Bukan,”
sela Katherine. “Albert Einstein.”
* Katherine Solomon sudah membaca setiap kata yang
ditulis Einstein, dan tercengang oleh penghormatan mendalam lelaki itu terhadap
hal-hal mistis, juga prediksinya bahwa suatu hari nanti masyarakat luas akan
merasakan hal yang sama. Agama masa depan, ramal Einstein, adalah agama kosmis.
Agama itu akan melampaui Tuhan, pribadi dan menghindari dogma dan teologi.
* Satu hal yang kupelajari dari Peter, inilah dia:
Ilmu pengetahuan dan mistisisme berhubungan sangat erat, hanya bisa dibedakan
melalui pendekatan mereka. Mereka punya tujuan yang sama... tapi metode yang
berbeda.
* “---Bahkan, Yesus sendiri berkata, ‘Tidak ada
sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang
rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.’”
“Itu prediksi yang aman untuk
disebutkan,” ujar Langdon. “pengetahuan berkembang secara eksponensial. Semakin
banyak yang kita ketahui, semakin besar kemampuan kita untuk belajar, dan semakin
cepat kita mengembangkan dasar pengetahuan kita.”
* Mau tak
mau Galloway tersenyum. Dia sudah mengantisipasi hasilnya. Walaupun masih belum
tahu bagaimana perkembangan baru ini pada akhirnya akan membantu mereka
memecahkan teka-teki piramida, dia menikmati peluang langka mengajari
seorang simbolog Harvard sesuatu mengenai simbol.
* “Sampai abad ke-4,” jelas Langdon, “salib bukan
simbol Kristen. Jauh sebelum itu, salib digunakan oleh orang-orang Mesir untuk
merepresentasikan persimpangan antara dua dimensi – manusia dan surga. Seperti
yang di atas, demikian juga yang bawah. Itu representasi visual persimpangan
tempat manusia dan Tuhan menjadi satu.”
* Malam selalu paling gelap sebelum fajar.
* “Robert, suhu adalah katalisator alkimia
mendasar, dan tidak selalu diukur dalam Fahrenheit dan Celsius. Ada skala suhu
yang jauh lebih tua, salah satunya ditemukan oleh Isaac-“
“Skala
Newton,” ujar Langdon, menyadari bahwa Katherine benar.
“Ya!
Isaac Newton menemukan seluruh sistem pengukur suhu yang benar-benar
berdasarkan pada fenomena alam. Suhu es meleleh merupakan titik dasar Newton,
dan dia menyebutnya sebagai ‘derajat zeroth (nol)’.” Katherine terdiam.
“Kurasa, kau bisa menebak derajat apa yang diberikannya untuk suhu air mendidih
– raja dari semua proses alkimia?”
“Tiga
puluh tiga.”
“Ya,
tiga puluh tiga! Derajat ketiga puluh tiga. Pada skala Newton, suhu air
mendidih adalah tiga puluh tiga derajat. Aku ingat pernah bertanya kepada
kakakku mengapa Newton memilih angka itu. Maksudku, tampaknya begitu acak. Air
mendidih adalah proses alkimia yang paling mendasar dan dia memilih tiga puluh
tiga? Megapa bukan seratus? Mengapa bukan sesuatu yang lebih elegan? Peter
menjelaskan bahwa bagi ahli mistik seperti Isaac Newton, tidak ada angka yang
lebih elegan daripada tiga puluh tiga.”
* “Kau percaya sesuatu di sini akan bersinar
ketika semakin panas?”
“Bukan
bersinar, Robert. Berpijar. Ada perbedaan besar, pijaran disebabkan oleh
panas dan terjadi pada suhu yang spesifik. Misalnya, ketika para pembuat
baja menempa balok-balok baja, mereka menyemprotkan pelapis transparan yang
berpijar pada suhu sasaran spesifik, sehingga mereka tahu kapan balok-baloknya
selesai dikerjakan. Ingat mood ring. Kenakan saja di jari tanganmu, dan
cincin itu akan berubah warna akibat panas tubuh.”
* Sebagai
perenang serius, Robert Langdon sering bertanya-tanya bagaimana rasanya
tenggelam. Kini dia tahu, dirinya akan mengalaminya sendiri. Walaupun bisa
menahan napas lebih lama daripada sebagian besar orang, dia sudah bisa
merasakan paru-parunya bereaksi terhadap tidak adanya udara. Karbon dioksida
berakumulasi di dalam darahnya, menimbulkan desakan untuk menarik napas secara
insting. Jangan bernapas! Refleks untuk mulai bernapas semakin meningkat
intensitasnya seiring berlalunya waktu. Langdon tahu, sebentar lagi dia akan
mencapai apa yang disebut sebagai titik puncak penahanan napas – momen penting
ketika seseorang tidak mampu lagi menahan napas secara sengaja.
Buka
tutupnya! Insting Langdon adalah menggedor-gedor dan melawan. Tapi dia
tahu, sebaiknya tidak menyia-nyiakan oksigen yang berharga. Yang bisa
dilakukannya hanyalah menata melalui kekaburan air di atasnya dan berharap.
Dunia luar kini hanya berupa petak buram cahaya di atas jendela plexiglas.
Otot-otot pusatnya sudah mulai terbakar, dan dia tahu hipoksia sedang
berlangsung.
* Rahasianya tersembunyi... di dalam.
Bahkan sekarang
pun, tampaknya Misteri Kuno sedang mengejeknya. “Rahasianya tersembunyi di
dalam” adalah ajaran inti misteri itu, mendesak umat manusia untuk tidak
mencari Tuhan di dalam surga di atas sana... tapi di dalam diri mereka sendiri.
Rahasianya tersembunyi di dalam. Itu pesan dari semua guru mistik besar.
Kerajaan
Allah ada di dalammu, kata Yesus Kristus.
Kenali dirimu sendiri,
kata Pythagoras.
Tidak tahukah kau bahwa kau adalah
Tuhan, kata Hermes Trismegistus.
Daftarnya
terus berlanjut.
Semua
ajaran mistis berabad-abad telah berupaya mengungkapkan gagasan yang satu ini.
Rahasianya tersembunyi di dalam.
Walaupun
demikian, umat manusia terus memandang ke atas untuk mencari wajah Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar