Selasa, 09 Juni 2015

Penggalan Novel 5

Dan Brown: The Lost Symbol
Moment - 2


* Trish tidak tahu ke mana arah percakapan ini, tapi dia menyukai apa yang didengarnya. “Jadi, marilah kita bicara secara hipotesis,” ujar Katherine, seraya membuang butiran pasir itu. “Bagaimana jika saya katakan bahwa pikiran... gagasan mungil apa pun yang terbentuk di dalam benak Anda... sesungguhnya punya massa? Bagaimana jika saya katakan bahwa pikiran adalah suatu benda nyata, entitas terukur, dengan massa terukur? Massa yang sangat kecil, tentu saja, tapi bisa disebut massa juga. Apa implikasinya?”
          “Bicara secara hipotesis? Wah, implikasinya yang nyata adalah... jika pikiran punya massa, pikiran mengeluarkan gravitasi dan bisa menarik benda-benda ke arahnya.”
          Katherine tersenyum. “Bagus. Kini kita kembangkan ide itu selangkah lebih jauh. Apa yang terjadi jika banyak orang mulai memfokuskan diri pada pikiran yang sama? Semua kejadian pikiran yang sama itu mulai bergabung menjadi satu, dan massa kumulatif pikiran ini mulai bertambah. Dan karenanya, gravitasinya bertambah.”
          “Oke.”
“Artinya... jika ada cukup banyak orang yang mulai memiirkan hal yang sama, daya grivitasi pikiran itu menjadi nyata... dan mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya,” Katherine mengedipkan sebelah mata. “Dan hal itu bisa memiliki efek terukur di dalam dunia fisik kita.”

* Banyaknya orang yang meyakini kebenaran suatu gagasan, bukanlah bukti validitasnya.

* Banyak orang berpendidikan yang percaya bahwa kebijakan yang menganugerahkan kekuasaan.

* Langdon menundukkan pandangan, kini memandang Sato. “Pengetahuan adalah kekuatan, dan pengetahuan yang tepat memungkinkan manusia melakukan tugas-tugas ajaib, hampir menyerupai dewa.” Sato menurunkan pandangan, kembali pada Langdon seraya menggosok-gosok leher. “Meletakkan kabel telepon tidak bisa dikatakan menjadi dewa.”
          “Mungkin bagi manusia modern,” jawab Langdon. “Tapi jika George Washington tahu kita telah menjadi bangsa yang punya kekuatan untuk bicara melintasi lautan, terbang dengan kecepatan suara, dan menapaki bulan, dia akan berasumsi kita telah menjadi dewa, mampu melakukan tugas-tugas ajaib.” Dia terdiam. “Dalam kata-kata futuris Arthur C. Clarke, “Teknologi apa pun yang cukup maju tidak bisa dibedakan dengan sihir.”

* Kalau begitu, tontonlah ESPN, pikir Langdon, yang selalu geli melihat atlet-atlet profesional menunjuk ke langit sebagai ucapan syukur kepada Tuhan setelah melakukan touchdown atau home run. Ia bertanya-tanya, seberapa  banyak yang tahu kalau mereka sedang melanjutkan tradisi mistis pra-kristen dengan mengakui kekuatan mistis di atas yang, untuk waktu yang singkat, telah mengubah mereka menjadi dewa yang mampu melakukan tindakan-tindakan ajaib.

* Langdon berjongkok cemas di samping telapak tangan Peter yang terbuka, dan meneliti tujuh simbol mungil yang tadinya tersembunyi di balik jari-jari tak bernyawa yang mengepal.
          “Tampaknya seperti beberapa angka,” ujar Langdon terkejut. “Walaupun aku tidak mengenali angka-angka itu.”
          “Yang pertama adalah angka Romawi,” kata Anderson.
          “Sesungguhnya bukan, menurutku,” ujar Langdon membetulkan. “Angka Romawi I-I-I-X tidak ada. Seharusnya ditulis sebagai V-I-I.”
          “Bagaimana dengan yang lainnya?” Tanya Sato.
          “Aku tidak yakin. Tampaknya seperti delapan-delapan-lima dalam angka Arab.”
          “Arab?” tanya Anderson. “Kelihatannya seperti angka-angka normal.”
          “Angka-angka normal kita adalah angka Arab.” Langdon sudah begitu terbiasa menjelaskan hal ini kepada para mahasiswanya, sehingga dia benar-benar menyiapkan kuliah mengenai semua kemajuan ilmiah yang dibuat oleh kebudayaan-kebudayaan Timur Tengah awal – salah satunya adalah sistem angka modern, yang kelebihannya dibandingkan dengan angka Romawi termasuk “notasi posisi” dan penemuan angka nol. Tentu saja Langdon selalu mengakhiri kuliahnya dengan mengingatkan bahwa kebudayaan Arab juga telah mempersembahkan kepada umat manusia kata al-kuhl – minuman favorit para mahasiswa baru Harvard – yang dikenal sebagai alkohol.
          Langdon meneliti tato itu, kebingungan. “Dan bahkan tidak yakin mengenai delapan-delapan-lima. Tulisan lurus itu tampak tidak biasa. Mungkin itu bukan angka-angka.”
          “Kalau begitu, apa?” tanya Sato.
          “Aku tidak yakin. Seluruh tato itu tampak mirip... runic.”
          “Artinya?” tanya Sato
          “Alfabet runic hanya terdiri atas garis-garis lurus. Hurufnya disebut rune dan sering digunakan untuk pahatan pada batu – karena garis-garis lengkung terlalu sulit untuk dipahatkan.”
          “Jika ini rune,” ujar Sato, “apa artinya?”
          Langdon menggeleng. Keahliannya hanya sampai alfabet runic paling dasar – Futhark – sistem Teutonik abad ke-3, dan ini bukan Futhark. “Sejujurnya, aku bahkan tidak yakin ini rune. Kau harus bertanya kepada seorang spesialis. Ada lusinan bentuk yang berbeda – Halsinge, Manx, Stungnar ‘titik-titik’-“

* Langdon mengembuskan napas, memerangi dorongan untuk mengatakan kepada Sato hal yang sama yang terus-menerus dikatakannya kepada para mahasiswanya: “Google” bukanlah sinonim dari “riset”. Pada masa-masa pencarian kata-kunci besar-besaran di seluruh dunia ini, tampaknya segalanya bertautan dengan segalanya. Dunia menjadi satu jaringan informasi besar yang saling berkaitan dan menjadi semakin padat setiap hari.

* Riset Katherine siap membuka pintu pemahaman baru, dan setelah pintu itu terbuka, walaupun sedikit saja, yang lain akan mengikuti. Hanya masalah waktu sebelum semuanya berubah. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Dunia harus tetap seperti sekarang... terapung-apung dalam kegelapan ketidaktahuan.

* Solomon merendahkan suaranya. “Aku berharap, kau bersedia menjaga sesuatu untukku.”
          Langdon memutar bola mata. “Bukan Hercules, kuharap.”
          Langdon pernah setuju mengurusi anjing mastiff Solomon yang beratnya tujuh puluh kilogram itu, Hercules, selama Solomon bepergian. Ketika berada di rumah Langdon, anjing itu tampaknya merindukan mainan kunyah dari kulit favoritnya dan menemukan pengganti yang sesuai di ruangan kerja Langdon – perkamen Injil kuno asli dari kulit, berhuruf mengilap, dan ditulis tangan dari tahun 1600-an. Sebutan “anjing nakal” tampaknya belum cukup.
          “Kau tahu, aku masih mencari pengganti injil itu untukmu,” ujar Solomon seraya tersenyum malu.
          “Lupakanlah. Aku senang Hercules tertarik pada agama.”
* Dengan sabar, Peter meletakkan tangannya pada bahu Langdon. “Aku tahu bagaimana ini kedengarannya Robert. Aku sudah lama mengenalmu, dan skeptisismemu adalah salah satu kekuatan terbesarmu sebagai akademisi. Itu juga kelemahan terbesarmu. Aku cukup mengenalmu, sehingga tahu kalau kau bukanlah orang yang bisa kuminta untuk percaya... melainkan bisa dipercaya. Jadi, kini aku memintamu untuk percaya ketika kukatakan bahwa jimat ini punya kekuatan. Aku diberitahu bahwa jimat ini bisa memberikan kepada pemiliknya kemampuan untuk mendatangkan keteraturan dari kekacauan.”

* Katherine mendekat, matanya terpusat pada layar plasma “Dokumen ini... di-redaksi?”
          Trish mengangguk. “selamat datang di dunia teks terdigitalisasi.”
          Redaksi otomatis telah menjadi praktik standar ketika menawarkan dokumen-dokumen digital. Redaksi adalah proses di mana sebuah server mengizinkan pengguna untuk mencari seluruh teks,  tapi kemudian hanya mengungkapkan sebagian kecil teks – semacam pancingan – hanya teks yang mengapit langsung kata-kata kunci yang diminta. Dengan menghilangkan sebagian besar teks, server menghindari pelanggaran hak cipta dan juga mengirimkan pesan yang memikat kepada pengguna: Aku punya informasi yang sedang kau cari, tapi jika menginginkan keseluruhan teks, kau harus membelinya dariku.

* Manipulasi yang hendak dilakukan oleh Langdon tampaknya sudah disarankan oleh penculik Peter ketika dia membicarakan pepatah Hermetik kuno: Seperti yang di atas, demikian juga yang di bawah.

* Uang? Mal’akh tertawa dan kembali meneguk teh.
          “Aku menyumbang jutaan dolar untuk Freemason; aku tidak peduli kekayaan.” Aku datang untuk kebijakan, dan dia menawariku kekayaan?

* Melalui kisah-kisah dongeng, pertempuran purba “baik vs jahat” ditanamkan dalam diri kita sebagai anak-anak melalui kisah-kisah.

* Suara Katherine mewujud di hadapannya dalam kegelapan, kata-katanya nyaris tertelan seluruhnya oleh akustik tak bernyawa di dalam kegelapan ini. “Tubuh manusia itu menakjubkan,” katanya. “Jika kau menghilangkan salah satu input pengindraannya, indra-indra yang lain segera mengambil alih. Saat ini saraf-saraf di kakimu secara harfiah ‘menyelaraskan’ diri mereka sendiri agar menjadi lebih sensitif.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar