Dialektika gue 1:
Ada Apa dengan Anak-Anak?
* kebingungan melanda dalam menulis ulang sebuat
cerita rakyat untuk anak-anak. Hal tersebut baru mendapat perhatian akhir-akhir
ini. Padahal jika melihat esensinya, visi ini sudah nampak dari jauh-jauh tahun
sebelumnya. Cerita anak-anak mana yang benar-benar (sesungguhnya) untuk
anak-anak? Tidak mungkin menulis cerita yang menyangkut perjalanan para Tabi
(Teletubies) atau Dora (Dora The Eksplorer) atau Otan dan Dolpino (Dunia
Binatang) menjadi sebuah cerita rakyat yang di dalamnya harus menyertakan
identitas daerah. Ya, perang antara baik dan buruk telah diturunkan dari masa
anak-anak. Namun, manakah yang layak disajikan untuk anak-anak? Tanpa
mengubah “itu kisah/cerita/dongeng/legenda dari daerah saya.”
Kekhawatiran
muncul di akhir cerita rakyat yang awalnya membuatku tertarik. “ia kemudian
datang dengan membawa beberapa potong bambu yang sudah diruncingkan ujungnya.”
“Ranjau yang dipasang --- tepat kena perut --- menjadikan matinya. ---
cepat-cepat mengambil bambu lalu menada darah--- sesudahnya dipikulnya bambu
itu sambil berjalan dan bernyanyi menawarkan jualannya.” “makan,makan tulang
sesamamu; minum-minum, darah sesamamu.”
Inti
sebuah sanksi dan hadiah bisa sampai sejauh mana? Seperti anak yang dipukul
untuk tahu mana yang baik dan buruk, atau anak yang selalu di manja hingga baik
dan buruk terletak sejajar-bersandingan. Harus ada batas bukan? Untuk anak usia
ini dan ini. Batas itu akan kubuat sejauh apa? Setebal apa?
Setinggi apa? Seperti membuat benteng perlindungan untuk anak-anak, kapan kau
tunjukkan bahwa ada sisi-sisi yang gelap, buruk, atau jahat? Membangun
anak-anak yang siap mental atau anak-anak bermental ciut? Tunggu dulu,
mereka masih anak-anak. Pikiran ini membuat perutku bergejolak. Kurasa
hal pertama yang perlu kulakukan adalah membuat batas dan subtitusi inti yang
dapat mewakilkan sisi kekerasan yang sebenarnya. Bisa di buat lebih halus, atau
lebih tersamar tanpa kehilangan inti pokoknya.
Teringat
tentang Timun Emas, versi yang terlintas di kepala adalah seorang yang tidak
punya anak dan raksasa yang lapar. Dengan mengetahui konsekuensinya, Si Ibu
melakukan perjanjian dengan Si Raksasa. Namun Si Ibu melanggar perjanjian
dengan menyelamatkan Si Anak. Kurasa Si Ibu tidak memikirkan imbasnya di
kemudian hari (Sepertinya pada masa itu belum dikenal istilah adopsi – senyum).
Intinya adalah jangan melakukan perjanjian apapun jika tidak mampu menepatinya
apalagi hal tersebut menyangkut nyawa. Bukan saja melanggar perjanjian, namun
juga lari dari tanggung jawab dan penipuan (terhadap Si Raksasa) - wanprestasi.
Jika digambarkan di masa kini agaknya mirip dengan kisah para ngepetor (para
pelaku ngepet – senyum) mengharapkan kekayaan namun melarikan konsekuensi. Dan
kisah Timun Emas ini tersajikan untuk anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar