Selasa, 09 Juni 2015

Kumpulan "Pura-pura Gila Gue" (Bag. 1)

Dialektika gue 1:

Ada Apa dengan Anak-Anak?

* kebingungan melanda dalam menulis ulang sebuat cerita rakyat untuk anak-anak. Hal tersebut baru mendapat perhatian akhir-akhir ini. Padahal jika melihat esensinya, visi ini sudah nampak dari jauh-jauh tahun sebelumnya. Cerita anak-anak mana yang benar-benar (sesungguhnya) untuk anak-anak? Tidak mungkin menulis cerita yang menyangkut perjalanan para Tabi (Teletubies) atau Dora (Dora The Eksplorer) atau Otan dan Dolpino (Dunia Binatang) menjadi sebuah cerita rakyat yang di dalamnya harus menyertakan identitas daerah. Ya, perang antara baik dan buruk telah diturunkan dari masa anak-anak. Namun, manakah yang layak disajikan untuk anak-anak? Tanpa mengubah “itu kisah/cerita/dongeng/legenda dari daerah saya.”
          Kekhawatiran muncul di akhir cerita rakyat yang awalnya membuatku tertarik. “ia kemudian datang dengan membawa beberapa potong bambu yang sudah diruncingkan ujungnya.” “Ranjau yang dipasang --- tepat kena perut --- menjadikan matinya. --- cepat-cepat mengambil bambu lalu menada darah--- sesudahnya dipikulnya bambu itu sambil berjalan dan bernyanyi menawarkan jualannya.” “makan,makan tulang sesamamu; minum-minum, darah sesamamu.”
          Inti sebuah sanksi dan hadiah bisa sampai sejauh mana? Seperti anak yang dipukul untuk tahu mana yang baik dan buruk, atau anak yang selalu di manja hingga baik dan buruk terletak sejajar-bersandingan. Harus ada batas bukan? Untuk anak usia ini dan ini. Batas itu akan kubuat sejauh apa? Setebal apa? Setinggi apa? Seperti membuat benteng perlindungan untuk anak-anak, kapan kau tunjukkan bahwa ada sisi-sisi yang gelap, buruk, atau jahat? Membangun anak-anak yang siap mental atau anak-anak bermental ciut? Tunggu dulu, mereka masih anak-anak. Pikiran ini membuat perutku bergejolak. Kurasa hal pertama yang perlu kulakukan adalah membuat batas dan subtitusi inti yang dapat mewakilkan sisi kekerasan yang sebenarnya. Bisa di buat lebih halus, atau lebih tersamar tanpa kehilangan inti pokoknya.

          Teringat tentang Timun Emas, versi yang terlintas di kepala adalah seorang yang tidak punya anak dan raksasa yang lapar. Dengan mengetahui konsekuensinya, Si Ibu melakukan perjanjian dengan Si Raksasa. Namun Si Ibu melanggar perjanjian dengan menyelamatkan Si Anak. Kurasa Si Ibu tidak memikirkan imbasnya di kemudian hari (Sepertinya pada masa itu belum dikenal istilah adopsi – senyum). Intinya adalah jangan melakukan perjanjian apapun jika tidak mampu menepatinya apalagi hal tersebut menyangkut nyawa. Bukan saja melanggar perjanjian, namun juga lari dari tanggung jawab dan penipuan (terhadap Si Raksasa) - wanprestasi. Jika digambarkan di masa kini agaknya mirip dengan kisah para ngepetor (para pelaku ngepet – senyum) mengharapkan kekayaan namun melarikan konsekuensi. Dan kisah Timun Emas ini tersajikan untuk anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar