Rabu, 03 Juni 2015

Penggalan Novel 4


Dan Brown: The Lost Symbol
Moment - 1

* Hidup di dunia tanpa menyadari arti dunia ibarat berkunjung di perpustakaan besar tanpa menyentuh buku-bukunya. The Secret Teachings of All Ages

* Perempuan itu tertawa. “Kaus berleher tinggi yang anda kenakan kuno sekali. Anda akan tampak jauh lebih cerdas dengan kemeja berdasi!”
          Mustahil, pikir Langdon. Dasi adalah tali gantungan mungil.

* Enam hari seminggu, ketika belajar di Phillips Exeter Academy, Langdon harus memakai dasi. Walaupun ada pernyataan romantis dari pemimpin akademi bahwa cravat (dasi) berasal dari fasealla (syal pengikat leher) sutra yang dikenakan para orator Romawi untuk menghangatkan pita suara, Langdon tahu bahwa secara etimologis cravat sesungguhnya berasal dari sebutan untuk sekumpulan serdadu bayaran “Croat” keji yang menyimpulkan saputangan di leher sebelum maju bertempur. Sampai sekarang, pakaian peperangan kuno ini dikenakan oleh para prajurit perkantoran modern yang berharap bisa mengintimidasi musuh-musuh mereka dalam peperangan harian di ruang rapat.

* Jiwa manusia mendambakan penguasaan atas cangkang jasmaniahnya.

* Berhati-hati selalu lebih baik.

* Intuisi manusia merupakan detektor bahaya yang lebih akurat daripada semua perangkat elektronik di dunia berkat ketakutan.

* Mal’akh tersenyum pada diri sendiri. “Terkadang legenda yang bertahan selama berabad-abad... bertahan untuk alasan tertentu.”

* Ketika eskalator berjalan naik, Langdon menghela napas panjang dan mencoba menata pikiran. Dia mendongak, memandang menembus langit-langit kaca yang berbintik-bintik hujan ke bentuk raksasa Kubah Capitol yang benderang di atas kepalanya. Bangunan itu sangat menakjubkan. Tinggi di atas atapnya, hampir seratus meter di udara, Statue of Freedom (Patung Kebebasan) mengintip ke dalam kegelapan berkabut bagai hantu penjaga. Langdon selalu menganggap ironis bahwa para pekerja yang mengangkat setiap bagian patung perunggu setinggi enam meter itu ke tempat bertenggernya adalah budak-budak – sebuah rahasia Capitol yang jarang masuk ke silabus kelas-kelas sejarah di SMU.

* “Setiap musim semi, saya mengajar mata kuliah yang disebut Simbol-Simbol Okultisme. Saya banyak membicarakan DC. Kau harus mengambil mata kuliah itu.”
          “Simbol-simbol okultisme!” Mahasiswa baru itu tampak kembali bergairah. “Jadi memang ada simbol-simbol iblis di DC!”
          Langdon tersenyum. “Maaf, tapi kata occult, walaupun memunculkan gambaran-gambaran mengenai pemujaan iblis, sesungguhnya berarti ‘tersembunyi’ atau ‘tersamar’. Pada masa-masa penindasan agama, pengetahuan yang bertentangan dengan doktrin harus terus disembunyikan atau ‘occult’, rahasia. Karena gereja merasa terancam oleh semua ini, segala sesuatu yang ‘rahasia’ mereka definisikan ulang sebagai jahat, dan prasangka itu terus bertahan.”

*  Langdon tersenyum pada semua wajah kebingungan itu. “Sobat-sobat, Mason bukanlah perkumpulan rahasia... mereka adalah perkumpulan dengan banyak rahasia.”
          “Sama saja,” gumam seseorang.
          “Benarkah?” tantang Langdon. “Apakah kalian menganggap Coca Cola perkumpulan rahasia?”
          “Tentu saja tidak,” jawab mahasiswa itu.
          “Nah, bagaimana jika kau mengetuk pintu kantor pusatnya dan meminta resep Classic Coke?”
          “Mereka tidak akan pernah memberitahumu.”
          “Tepat sekali. Untuk mengetahui rahasia terdalam Coca Cola, kau harus bergabung dengan perusahaan itu, bekerja bertahun-tahun, membuktikan kalau kau bisa dipercaya, dan pada akhirnya naik sampai ke eselon atas perusahaan. Di sana mereka mungkin akan membagikan informasi itu kepadamu. Lalu kau akan disumpah untuk merahasiakannya.”
 
* “Bagus. Kalau begitu, sebutkan tiga prasyarat agar suatu ideologi bisa dianggap sebagai agama.”
          “ABC,” jawab seorang mahasiswi. “Assure (menjamin), Believe (mengimani),  Convert (mengimankan).”

* Langdon mengedipkan sebelah mata. “Buka pandangan kalian, Sobat-sobat. Kita semua takut terhadap sesuatu yang tidak kita pahami.”

*Selama berabad-abad, “orang-orang terpandai” di dunia mengabaikan ilmu-ilmu pengetahuan kuno, mengolok-oloknya sebagai takhayul bodoh, dan malah mempersenjatai diri dengan skeptisisme angkuh dan teknologi-teknologi baru yang memukau – semua peranti yang hanya menuntun mereka lebih jauh dari kebenaran. Terobosan-terobosan baru setiap generasi terbukti keliru menurut teknologi generasi berikutnya dan itulah yang terus berlangsung selama berabad-abad. Semakin banyak manusia belajar, semakin banyak dia menyadari ketidaktahuannya.

* Pikiran lebih berkuasa daripada tubuh.

* Kita adalah tuan dari alam semesta kita sendiri.

* Dalam kata-kata Lynne Mc-Taggart: “Kesadaran hidup, entah mengapa, merupakan pengaruh yang mengubah kemungkinan mengenai adanya sesuatu menjadi sesuatu yang nyata. Bahan terpenting dalam menciptakan alam semesta kita adalah kesadaran yang mengamatinya.”

* Kehendak adalah keahlian yang dipelajari. Seperti meditasi, pemanfaatan kekuatan sejati “pikiran” memerlukan latihan. Yang lebih penting... beberapa orang dilahirkan dengan kemampuan melebihi orang lain dalam hal ini.

* Orang-orang kuno memiliki kebijakan ilmiah yang mendalam. Ilmu pengetahuan saat ini tidak bisa dibilang menciptakan “temuan-temuan”, tapi lebih pada menciptakan “temuan-temuan ulang”. Tampaknya, umat manusia pernah memahami hakekat alam semesta... tapi melepaskannya... dan melupakannya.

* Terkadang legenda yang bertahan selama berabad-abad... bertahan untuk alasan tertentu.
          “Tidak,” ujar Katherine lantang. “Itu tidak mungkin nyata.”
          Terkadang legenda hanyalah legenda.

*Trish hendak mengucapkan kata mustahil, tapi “kata-M” dilarang di sini. Katherine menganggapnya sebagai mind-set berbahaya di bidang yang sering mengubah kebohongan yang sudah dirancang sebelumnya menjadi kebenaran yang sudah dikonfirmasi.

* Trish sudah tahu kalau kata noetic berasal dari kata Yunani kuno nous – yang diterjemahkan secara kasar menjadi “pengetahuan dari dalam” atau “kesadaran intuitif”.

* Keesokan harinya, sebuah Volvo putih berhenti di jalan masuk ke rumah Trish dan seorang perempuan ramping menarik bercelana jins biru keluar dari dalamnya. Trish langsung merasa ciut. Hebat, gerutunya. Pintar, cantik, dan kurus – dan aku harus percaya Tuhan adil?

* Pengetahuan adalah alat, dan seperti semua alat lainnya, dampaknya berada di tangan pengguna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar