Dan Brown: The Lost Symbol
The moment - 3
* “Pada dasarnya, ya. Bilik-bilik itu selalu
menggabungkan simbol-simbol yang sama – tengkorak dan tulang-tulang yang
bersilangan, sabit, jam pasir, sulfur, garam, kertas kosong, sebatang lilin,
dan sebagainya. Simbol-simbol kematian menginspirasi kaum Mason untuk
merenungkan bagaimana sebaiknya menjalani kehidupan saat masih berada di
dunia.”
“Tampaknya
seperti altar kematian,” ujar Anderson.
Semacam
itulah tujuannya. “Sebagian besar mahasiswa simbologi punya reaksi yang
sama pada awalnya.” Langdon sering menugaskan mereka untuk membaca Symbols
of Freemansory karya Beresniak yang berisikan foto-foto indah Bilik
Perenungan.
“Dan
para mahasiswamu,” desak Sato, “tidak merasa gamang melihat kaum Mason
bermeditasi dengan tengkorak dan sabit?”
“Tidak
lebih menggamangkan daripada umat Kristen yang berdoa di kaki seorang lelaki
yang dipakukan pada salib, atau kaum Hindu yang merapal di depan gajah
berlengan empat yang disebut Ganesha. Salah paham terhadap simbol-simbol sebuah
kebudayaan merupakan akar prasangka yang umum.
* Sato meneliti semua benda yang ada di atas meja,
lalu meletakkan kedua tangan di pinggang, mendesah. “Sampah macam apa ini?”
Langdon
tahu, artefak-artefak di dalam ruangan ini dipilih dan diatur dengan cermat.
“Simbol-simbol transformasi,” jelasnya kepada Sato. Langdon merasa terkungkung
ketika beringsut maju dan bergabung bersama mereka di meja. “Tengkorak atau caput
mortuue merepresentasikan transformasi akhir manusia melalui pembusukan;
itu peringatan bahwa kita semua akan melepaskan daging fana kita suatu hari
nanti. Sulfur dan garam merupakan katalisator alkimia yang memudahkan
transformasi. Jam pasir merepresentasikan kekuatan waktu untuk
mentransformasikan.” Dia menunjuk lilin yang tidak dinyalakan. “Dan lilin ini
merepresentasikan api primordial perkembangan dan kebangkitan manusia dari
ketidaktahuan – transformasi melalui penerangan.”
“Dan...
itu?” tanya Sato, seraya menunjuk ke pojok.
Anderson
mengayunkan senter redupnya ke sabit raksasa yang bersandar pada dinding
belakang.
“Bukan
simbol kematian seperti yang diasumsikan banyak orang,” jelas Langdon. “Sabit
sesungguhnya simbol makanan bergizi transformatif dari alam – pemanenan
hadiah-hadiah dari alam.”
* “Aku benar-benar tidak tahu,” jawab Langdon
jujur. “Mungkin dia menciptakannya sebagai tempat perenungan bagi
saudara-saudara Masonnya yang bekerja di gedung ini, memberi mereka tempat
perlindungan spiritual yang jauh dari kekacauan dunia material... sebuah tempat
bagi para pembuat undang-undang yang berkuasa untuk merenung, sebelum membuat
keputusan-keputusan yang mempengaruhi sesamanya.”
“Sentimen
yang indah,” ujar Sato dengan nada sarkatis, “tapi aku punya perasaan bahwa
rakyat Amerika mungkin keberatan jika para pemimpin mereka berdoa di dalam
lemari bersama sabit dan tengkorak.”
Yah,
seharusnya mereka tidak keberatan, pikir Langdon, membayangkan betapa
berbeda dunia seandainya ada lebih banyak pemimpin yang meluangkan waktu untuk
merenungkan kematian sebelum berderap menuju peperangan.
* VITRIOL
“Pilihan
kata yang aneh,” ujar Sato, ketika cahaya lilin memproyeksikan siluet
mengerikan berbentuk tengkorak di atas huruf-huruf itu.
“Sesungguhnya
itu singkatan,” jelas Lnagdon. “Ditulis pada dinding belakang sebagian besar
bilik seperti ini sebagai singkatan mantra meditatif Mason: Visita interiora
terrae, rectificando invenien occultum lapidem.”
Sato
mengamati Langdon, tampak nyaris terkesan. “Artinya?”
“Kunjungi
bagian dalam bumi, dan melalui perbaikan, kau akan menemukan batu tersembunyi.”
* Astaga. Dia kembali memandang piramida
batu terpotong di atas meja. Puncaknya datar – area persegi empat kecil – ruang
kosong yang secara simbolis menunggu potongan terakhirnya.
Potongan
yang akan mengubahnya dari Piramida yang Belum selesai menjadi Piramida Sejati.
Kini
Langdon menyadari bahwa piramida mungil yang dibawanya bukanlah sebuah piramida.
Itu batu-puncak. Seketika dia tahu mengapa hanya dirinya yang bisa
mengungkapkan misteri piramida ini.
Aku
memegang potongan terakhirnya.
Dan ini memang... sebuah jimat –
talisman.
Ketika
Peter bilang bungkusan itu berisi jimat, Langdon tertawa. Kini ia
menyadari kebenaran ucapan temannya. Batu-puncak mungil ini memang jimat,
tapi bukan jenis yang ajaib... ini jenis yang jauh lebih kuno. Jauh sebelum talisman
– jimat punya konotasi-konotasi ajaib, kata itu punya arti lain, yaitu
“penyelesaian”. Dari kata Yunani telesma, artinya “selesai”, talisman
adalah benda atau gagasan apa
pun yang melengkapi benda atau gagasan lain dan membuatnya utuh. Elemen
penyelesaian. Jika bicara simbolis, batu-puncak adalah talisman tertinggi,
mengubah Piramida yang Belum Selesai menjadi sebuah simbol kesempurnaan yang
lengkap.
“Kusarankan agar kau segera memikirkan
peta itu,” ujar Mal’akh. “Aku perlu informasinya hari ini.”
“Hari ini?! Sekarang sudah lewat pukul
sembilan malam.”
“Tepat sekali. Tempus fugit (Time flees).”
* Faukman menyebutkan nomornya.
“Terima
kasih, Jonas,” ujar Langdon, kedengarannya sangat bersyukur. “Aku berutang
padamu.”
“Kau
berutang manuskrip kepadaku, Robert. Kau tahu berapa lama–“
Telepon
terputus.
Faukman
menatap gagang telepon dan menggeleng-gelengkan kepala. Penerbitan buku akan
jauh lebih mudah tanpa adanya para penulis.
*Dewi Minerva (Dewi dari Mitologi Romawi sebagai
dewi perang, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, sehi kriya, puisi, obat-obatan,
pelindung para pengrajin dan penemu alat musik.)
* Jendela langit-langit dari kaca patri berkilau di
antara balok-balok berpanel yang dihiasi “lembaran aluminium” langka – logam
yang pernah dianggap lebih berharga daripada emas. Di bawahnya, rangkaian
anggun pilar berpasangan mendereti balkon lantai dua yang bisa diakses melalui
dua tangga melengkung megah, dengan masing-masing tiang tangga menyokong sosok
perempuan perunggu raksasa yang sedang mengangkat obor pencerahan, mencerminkan
tema pencerahan.
Dalam
upaya aneh untuk mencerminkan tema pencerahan modern ini, tapi tetap mengikuti
aturan dekoratif arsitektur Renaisans, semua pegangan tangga dihiasi ukiran
bocah menyerupai cupid (Malaikat kecil yang membawa panah
asmara-penerj.) yang digambarkan sebagai ilmuwan modern. Malaikat tukang
listrik sedang memegang telepon? Malaikat kecil entomolog dengan kotak
spesimen? Langdon bertanya-tanya apa pendapat seniman besar Bernini.
* Katherine pernah mendengar bahwa rasa takut
bertindak seperti perangsang, mempertajam kemampuan pikiran. Akan tetapi, saat
ini ketakutan telah mengubah pikirannya menjadi gelombang kepanikan dan
kebingungan.
* “Kau melihat Musa?”
Langdon
mendongak memandang patung terkenal milik perpustakaan. “Ya.”
“Dia
bertanduk.”
“Aku
sadar itu.”
“Tapi
tahukah kau mengapa dia bertanduk?”
Seperti
sebagian besar guru, Langdon tidak suka dikuliahi. Alasan mengapa patung Musa
di atas mereka bertanduk sama dengan alasan mengapa ada ribuan gambar Musa
dalam tradisi kristen yang bertanduk – yaitu kesalahan menerjemahkan Kitab
Keluaran. Teks Ibrani aslinya menjelaskan bahwa memiliki “karan ohr panav”
– “kulit wajah yang berkilau seperti cahaya” – tapi ketika Gereja Katolik Roma
membuat terjemahan Latin resmi Alkitab, penerjemahnya menggambarkan Musa secara
serampangan, menjadikannya sebagai “comuta essetfaciesmi” yang berarti
“wajahnya bertanduk”. Sejak saat itu, para seniman dan pematung yang takut
terhadap amarah Gereja jika mereka tidak mengikuti Alkitab – mulai
menggambarkan Musa dengan tanduk.
“Itu
kesalahan sederhana,” jawab Langdon. “Kesalahan terjemahan oleh Saint Jerome
sekitar tahun 400 Masehi.”
Bellamy
tampak terkesan. “Tepat sekali. Kesalahan terjemahan. Dan hasilnya... Musa yang
malang kini cacat di sepanjang sejarah.”
“Cacat”
adalah cara manis untuk mengatakannya. Sewaktu kecil Langdon ketakutan ketika
melihat “Musa bertanduk” seperti dalam lukisan Michelangelo – di bagian tengah
Basilika St. Peter Chains, Roma.
“Aku
menyebut Musa bertanduk,” ujar Bellamy kini, “untuk mengilustrasikan bagaimana
satu kata saja, yang disalahartikan, bisa menulis ulang sejarah.”
Kau
menguliahi orang yang sudah tahu, pikir Langdon, yang mempelajari hal itu
untuk pertama kalinya di Paris beberapa tahun lalu. SanGreal: Holy Grail (Cawan
Suci). Sang Real: Royal Blood (Darah Biru).
“Aku
bisa melihat dilemamu, Profesor. Akan tetapi, Misteri Kuno maupun filsafat
Mason mengakui kemungkinan adanya Tuhan di dalam diri kita semua. Secara
simbolis, seseorang bisa menyatakan bahwa segala yang berada dalam jangkauan
seorang manusia yang tercerahkan... berada dalam jangkauan Tuhan.” Langdon
tidak merasa tergoyahkan dengan permainan kata itu.
“Bahkan,
Alkitab mengiyakan,” ujar Bellamy. “Jika kita menerima, sebagaimana yang
dinyatakan dalam Kitab Kejadian, bahwa ‘Allah menciptakan manusia menurut
gambar-Nya,’ kita harus menerima implikasinya – bahwa umat manusia tidak
diciptakan lebih rendah daripada Tuhan. Dalam Lukas 17:21 di jelaskan,
‘Kerajaan Allah ada di antara kamu.’”
“Maaf,tapi
aku tidak mengenal adanya orang Kristen yang menganggap dirinya setara dengan
Tuhan.”
“Tentu
saja tidak,” ujar Bellamy. Nada suaranya mengeras. “Karena sebagian besar orang
Kristen menginginkan dua-duanya. Mereka ingin bisa menyatakan dengan bangga
bahwa mereka mempercayai Alkitab, tapi mereka mengabaikan saja bagian-bagian
yang menurut mereka terlalu sulit atau terlalu tidak nyaman untuk dipercayai.”
* Bahasa bisa sangat ahli dalam menyembunyikan
kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar