Selasa, 09 Juni 2015

Penggalan Novel 6


Dan Brown: The Lost Symbol
The moment - 3

* “Pada dasarnya, ya. Bilik-bilik itu selalu menggabungkan simbol-simbol yang sama – tengkorak dan tulang-tulang yang bersilangan, sabit, jam pasir, sulfur, garam, kertas kosong, sebatang lilin, dan sebagainya. Simbol-simbol kematian menginspirasi kaum Mason untuk merenungkan bagaimana sebaiknya menjalani kehidupan saat masih berada di dunia.”
          “Tampaknya seperti altar kematian,” ujar Anderson.
          Semacam itulah tujuannya. “Sebagian besar mahasiswa simbologi punya reaksi yang sama pada awalnya.” Langdon sering menugaskan mereka untuk membaca Symbols of Freemansory karya Beresniak yang berisikan foto-foto indah Bilik Perenungan.
          “Dan para mahasiswamu,” desak Sato, “tidak merasa gamang melihat kaum Mason bermeditasi dengan tengkorak dan sabit?”
          “Tidak lebih menggamangkan daripada umat Kristen yang berdoa di kaki seorang lelaki yang dipakukan pada salib, atau kaum Hindu yang merapal di depan gajah berlengan empat yang disebut Ganesha. Salah paham terhadap simbol-simbol sebuah kebudayaan merupakan akar prasangka yang umum.

* Sato meneliti semua benda yang ada di atas meja, lalu meletakkan kedua tangan di pinggang, mendesah. “Sampah macam apa ini?”
          Langdon tahu, artefak-artefak di dalam ruangan ini dipilih dan diatur dengan cermat. “Simbol-simbol transformasi,” jelasnya kepada Sato. Langdon merasa terkungkung ketika beringsut maju dan bergabung bersama mereka di meja. “Tengkorak atau caput mortuue merepresentasikan transformasi akhir manusia melalui pembusukan; itu peringatan bahwa kita semua akan melepaskan daging fana kita suatu hari nanti. Sulfur dan garam merupakan katalisator alkimia yang memudahkan transformasi. Jam pasir merepresentasikan kekuatan waktu untuk mentransformasikan.” Dia menunjuk lilin yang tidak dinyalakan. “Dan lilin ini merepresentasikan api primordial perkembangan dan kebangkitan manusia dari ketidaktahuan – transformasi melalui penerangan.”
          “Dan... itu?” tanya Sato, seraya menunjuk ke pojok.
          Anderson mengayunkan senter redupnya ke sabit raksasa yang bersandar pada dinding belakang.
          “Bukan simbol kematian seperti yang diasumsikan banyak orang,” jelas Langdon. “Sabit sesungguhnya simbol makanan bergizi transformatif dari alam – pemanenan hadiah-hadiah dari alam.”

* “Aku benar-benar tidak tahu,” jawab Langdon jujur. “Mungkin dia menciptakannya sebagai tempat perenungan bagi saudara-saudara Masonnya yang bekerja di gedung ini, memberi mereka tempat perlindungan spiritual yang jauh dari kekacauan dunia material... sebuah tempat bagi para pembuat undang-undang yang berkuasa untuk merenung, sebelum membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi sesamanya.”
          “Sentimen yang indah,” ujar Sato dengan nada sarkatis, “tapi aku punya perasaan bahwa rakyat Amerika mungkin keberatan jika para pemimpin mereka berdoa di dalam lemari bersama sabit dan tengkorak.”
          Yah, seharusnya mereka tidak keberatan, pikir Langdon, membayangkan betapa berbeda dunia seandainya ada lebih banyak pemimpin yang meluangkan waktu untuk merenungkan kematian sebelum berderap menuju peperangan.

* VITRIOL
          “Pilihan kata yang aneh,” ujar Sato, ketika cahaya lilin memproyeksikan siluet mengerikan berbentuk tengkorak di atas huruf-huruf itu.
          “Sesungguhnya itu singkatan,” jelas Lnagdon. “Ditulis pada dinding belakang sebagian besar bilik seperti ini sebagai singkatan mantra meditatif Mason: Visita interiora terrae, rectificando invenien occultum lapidem.
          Sato mengamati Langdon, tampak nyaris terkesan. “Artinya?”
          “Kunjungi bagian dalam bumi, dan melalui perbaikan, kau akan menemukan batu tersembunyi.”

* Astaga. Dia kembali memandang piramida batu terpotong di atas meja. Puncaknya datar – area persegi empat kecil – ruang kosong yang secara simbolis menunggu potongan terakhirnya.
          Potongan yang akan mengubahnya dari Piramida yang Belum selesai menjadi Piramida Sejati.
          Kini Langdon menyadari bahwa piramida mungil yang dibawanya bukanlah sebuah piramida. Itu batu-puncak. Seketika dia tahu mengapa hanya dirinya yang bisa mengungkapkan misteri piramida ini.
          Aku memegang potongan terakhirnya.
          Dan ini memang... sebuah jimat – talisman.
          Ketika Peter bilang bungkusan itu berisi jimat, Langdon tertawa. Kini ia menyadari kebenaran ucapan temannya. Batu-puncak mungil ini memang jimat, tapi bukan jenis yang ajaib... ini jenis yang jauh lebih kuno. Jauh sebelum talismanjimat punya konotasi-konotasi ajaib, kata itu punya arti lain, yaitu “penyelesaian”. Dari kata Yunani telesma, artinya “selesai”, talisman adalah benda atau gagasan apa pun yang melengkapi benda atau gagasan  lain dan membuatnya utuh. Elemen penyelesaian. Jika bicara simbolis, batu-puncak adalah talisman tertinggi, mengubah Piramida yang Belum Selesai menjadi sebuah simbol kesempurnaan yang lengkap.
          “Kusarankan agar kau segera memikirkan peta itu,” ujar Mal’akh. “Aku perlu informasinya hari ini.”
          “Hari ini?! Sekarang sudah lewat pukul sembilan malam.”
          “Tepat sekali. Tempus fugit (Time flees).

* Faukman menyebutkan nomornya.
          “Terima kasih, Jonas,” ujar Langdon, kedengarannya sangat bersyukur. “Aku berutang padamu.”
          “Kau berutang manuskrip kepadaku, Robert. Kau tahu berapa lama–“
          Telepon terputus.
          Faukman menatap gagang telepon dan menggeleng-gelengkan kepala. Penerbitan buku akan jauh lebih mudah tanpa adanya para penulis.

*Dewi Minerva (Dewi dari Mitologi Romawi sebagai dewi perang, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, sehi kriya, puisi, obat-obatan, pelindung para pengrajin dan penemu alat musik.)

* Jendela langit-langit dari kaca patri berkilau di antara balok-balok berpanel yang dihiasi “lembaran aluminium” langka – logam yang pernah dianggap lebih berharga daripada emas. Di bawahnya, rangkaian anggun pilar berpasangan mendereti balkon lantai dua yang bisa diakses melalui dua tangga melengkung megah, dengan masing-masing tiang tangga menyokong sosok perempuan perunggu raksasa yang sedang mengangkat obor pencerahan, mencerminkan tema pencerahan.
          Dalam upaya aneh untuk mencerminkan tema pencerahan modern ini, tapi tetap mengikuti aturan dekoratif arsitektur Renaisans, semua pegangan tangga dihiasi ukiran bocah menyerupai cupid (Malaikat kecil yang membawa panah asmara-penerj.) yang digambarkan sebagai ilmuwan modern. Malaikat tukang listrik sedang memegang telepon? Malaikat kecil entomolog dengan kotak spesimen? Langdon bertanya-tanya apa pendapat seniman besar Bernini.

* Katherine pernah mendengar bahwa rasa takut bertindak seperti perangsang, mempertajam kemampuan pikiran. Akan tetapi, saat ini ketakutan telah mengubah pikirannya menjadi gelombang kepanikan dan kebingungan.

* “Kau melihat Musa?”
          Langdon mendongak memandang patung terkenal milik perpustakaan. “Ya.”
          “Dia bertanduk.”
          “Aku sadar itu.”
          “Tapi tahukah kau mengapa dia bertanduk?”
          Seperti sebagian besar guru, Langdon tidak suka dikuliahi. Alasan mengapa patung Musa di atas mereka bertanduk sama dengan alasan mengapa ada ribuan gambar Musa dalam tradisi kristen yang bertanduk – yaitu kesalahan menerjemahkan Kitab Keluaran. Teks Ibrani aslinya menjelaskan bahwa memiliki “karan ohr panav” – “kulit wajah yang berkilau seperti cahaya” – tapi ketika Gereja Katolik Roma membuat terjemahan Latin resmi Alkitab, penerjemahnya menggambarkan Musa secara serampangan, menjadikannya sebagai “comuta essetfaciesmi” yang berarti “wajahnya bertanduk”. Sejak saat itu, para seniman dan pematung yang takut terhadap amarah Gereja jika mereka tidak mengikuti Alkitab – mulai menggambarkan Musa dengan tanduk.
          “Itu kesalahan sederhana,” jawab Langdon. “Kesalahan terjemahan oleh Saint Jerome sekitar tahun 400 Masehi.”
          Bellamy tampak terkesan. “Tepat sekali. Kesalahan terjemahan. Dan hasilnya... Musa yang malang kini cacat di sepanjang sejarah.”
          “Cacat” adalah cara manis untuk mengatakannya. Sewaktu kecil Langdon ketakutan ketika melihat “Musa bertanduk” seperti dalam lukisan Michelangelo – di bagian tengah Basilika St. Peter Chains, Roma.
          “Aku menyebut Musa bertanduk,” ujar Bellamy kini, “untuk mengilustrasikan bagaimana satu kata saja, yang disalahartikan, bisa menulis ulang sejarah.”
          Kau menguliahi orang yang sudah tahu, pikir Langdon, yang mempelajari hal itu untuk pertama kalinya di Paris beberapa tahun lalu. SanGreal: Holy Grail (Cawan Suci). Sang Real: Royal Blood (Darah Biru).
          “Aku bisa melihat dilemamu, Profesor. Akan tetapi, Misteri Kuno maupun filsafat Mason mengakui kemungkinan adanya Tuhan di dalam diri kita semua. Secara simbolis, seseorang bisa menyatakan bahwa segala yang berada dalam jangkauan seorang manusia yang tercerahkan... berada dalam jangkauan Tuhan.” Langdon tidak merasa tergoyahkan dengan permainan kata itu.
          “Bahkan, Alkitab mengiyakan,” ujar Bellamy. “Jika kita menerima, sebagaimana yang dinyatakan dalam Kitab Kejadian, bahwa ‘Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya,’ kita harus menerima implikasinya – bahwa umat manusia tidak diciptakan lebih rendah daripada Tuhan. Dalam Lukas 17:21 di jelaskan, ‘Kerajaan Allah ada di antara kamu.’”
          “Maaf,tapi aku tidak mengenal adanya orang Kristen yang menganggap dirinya setara dengan Tuhan.”
          “Tentu saja tidak,” ujar Bellamy. Nada suaranya mengeras. “Karena sebagian besar orang Kristen menginginkan dua-duanya. Mereka ingin bisa menyatakan dengan bangga bahwa mereka mempercayai Alkitab, tapi mereka mengabaikan saja bagian-bagian yang menurut mereka terlalu sulit atau terlalu tidak nyaman untuk dipercayai.”


* Bahasa bisa sangat ahli dalam menyembunyikan kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar