Senin, 04 Mei 2015

Kutipan Novel 2

*Entah mana yang lebih menyedihkan – kehilangan sesuatu yang kita cintai, atau tidak pernah memilikinya sama sekali (Sandra Brown – Unspeakable (Tak Terucapkan))

*Kalau aku tidak tahu, berarti aku tidak kehilangan apa-apa. (Linda Howard – After The Night (Menanti Fajar))

* “Ya Tuhan,” kata Gray, berusaha menguasai diri. Ia mengusap mata dengan punggung tangannya. “Kau lugu sekali. Aku memang lancar berbahasa Prancis, tapi itu bukan bahasa sehari-hariku.” Wajah Faith menunjukkan rasa malu dan tampaknya dia tak mengerti apa yang dimaksud Gray sehingga ia menjelaskannya kembali, “Sayang, kalau aku sempat berpikir untuk merayunya dalam bahasa Prancis, berarti aku tidak sepenuhnya tenggelam dalam apa yang sedang kulakukan. Kedengarannya mungkin indah, tapi tidak ada artinya. Laki-laki itu berbeda dengan wanita; semakin bergairah, kami semakin seperti manusia purba. Denganmu, berbicara bahasa Inggris saja susah, apalagi bahasa Prancis. Hanya kata-kata tertentu saja yang kuingat.”

Linda Howard – Almost Forever (Selamanya Cinta)

* Gosip memang punya cara tersendiri untuk menyenangkan orang-orang yang menyebarkannya, terutama wanita-wanita pencemburu, kurang pendidikan, dan tidak punya sopan santun.”

* “Aku selalu takut akan menumpahkan anggurku pada seseorang.” Kata Claire di dalam mobil. “Memang tidak pernah terjadi, tetapi aku selalu takut akan terjadi.”
          Max menanggapi itu dengan bijaksana, dan di bibirnya tersungging senyum tipis. “Aku pernah menumpahkan anggurku di pangkuan seorang wanita. Gaunnya jadi transparan karena basah, karena itu sangat kuingat. Lalu, pernah juga aku menggendong keponakanku yang masih bayi, dan semua tahu betapa barbarnya bayi itu, tidak punya malu atau kesopanan sama sekali, kalau dibandingkan dengan itu, menumpahkan anggur tidak ada apa-apanya.”

*Takdir memang punya cara untuk memberinya kesempatan membalas dendam.

*Harga diri tidak akan membayar tagihan-tagihanku.

* “Terus terang saja, tidak seorang pun perlu segala jenis perhiasan ini. Cincin pertunangan sama kunonya dan sama tradisionalnya seperti cincin kawin biasa, hanya simbol untuk memperingatkan pria-pria primitif lain bahwa kau sudah tidak bebas lagi.”
          Meski masih ragu Claire tidak bisa menahan dirinya tertawa melihat kilauan di mata Max. “Oh, jadi itu yang kaulakukan, memperingatkan pria-pria primitif lainnya?”
          “Kau tidak pernah tahu ada insting lelaki purba di balik pakaian-pakaian sutra yang rapi.”

*Perasaan tidak lagi penting saat bertahan hidup menjadi taruhannya. (Linda Howard, Raintree: Inferno (Raintree 1: Penguasa Api))

*Jika ingin suatu pekerjaan diselesaikan dengan benar, kerjakanlah sendiri. (Linda Howard, Raintree: Inferno (Raintree 1: Penguasa Api))

Lisa Kleypas : Devil In Winter (Romansa Pada Musim Dingin)

*Tha Gad Agam Ort = Cintaku untukmu

*Dan aku akan terus mencintaimu, sayangku
Sampai seluruh samudra mengering....

*Jangan pernah mencoba berbalik dari jalan yang baru – kau tidak tahu petualangan apa yang menantimu.

* “Kau harus belajar mengabaikan perkataan orang,” gumam Sebastian sembari menghampiri Evie. Lelaki itu berdiri di belakangnya, memegang bahu Evie, membuatnya sedikit kaget. “Dengan begitu, kau akan jauh lebih bahagia.” Mendadak suara suaminya diwarnai kegelian. “Aku belajar bahwa jika gosip tentang orang lain itu seringkali benar, justru sebaliknya yang terjadi jika menyangkut diri kita sendiri.”

*Kata ‘sopan’ menyiratkan ketidakpedulian.

* “Sejauh ini kau menghabiskan waktumu dengan berusaha menyenangkan orang lain,” ia mendengar lelaki itu berkata. “Dengan tingkat kesuksesan yang lumayan menyedihkan. Bagaimana kalau sekarang kau mencoba menyenangkan dirimu sendiri? Apa salahnya kau hidup sesuai aturanmu sendiri? Apa yang kau dapatkan dengan mematuhi aturan sosial?”

* “Hanya sedikit hal yang tidak bisa kaumiliki... Asalkan kau berani meraihnya.”

* “Harga diri lelaki lebih rapuh daripada yang kaupikir. Mudah sekali bagi kami untuk salah mengira sikap malu-malu dengan sikap dingin, berdiam diri dengan ketidakpedulian. Kau bisa saja sedikit berusaha, tahu tidak. Satu pertemuan singkat diantara kita berdua... satu senyuman darimu... hanya itu dorongan yang kuperlukan untuk melahapmu seperti ayam di atas piring.”

* Dalam hati Sebastian terpaksa mengakui bahwa ketiadaan Westcliff dalam hidupnya mirip bisul di kaki yang terus-menerus tergesek dan takkan pernah sembuh.

* “Dia tidak memercayai cinta, sama sepertiku.” Ia memelototi Westcliff. “Beberapa kali kau pernah memberitahuku bahwa cinta itu khayalan kaum laki-laki yang ingin membuat pernikahan terasa lebih menyenangkan?”
“Aku keliru,” sahut Westcliff. “Kenapa itu membuatmu marah besar?”

*Namun Westcliff sudah belajar bahwa misteri cinta tidak selalu bisa dijelaskan secara rasional. Terkadang keretakan dalam dua jiwa yang berbeda justru menjadi perekat yang menyatukan mereka.

*Sebastian membuka mata dan dengan susah payah memusatkan perhatian pada Evie. “Jika aku membutuhkan kemurahan hati Tuhan,” bisiknya, “aku berada dalam masalah besar... kecuali kita bisa menemukan malaikat korup yang bisa disuap.”

*Wanita itu mengulurkan tangan dan memeluk Evie sekali lagi, dan berbicara ke rambut Evie yang berantakan dan kusut. “Kau tahu, dia takkan mati. Hanya orang-orang baik dan saleh yang meninggal sebelum waktunya.” Lillian tertawa pelan. “Sementara bajingan egois seperti St. Vincent berumur panjang untuk menyiksa orang lain.”

* “Aku ingin mengisi seluruh bagian dirimu... menghirup udara dari paru-parumu... meninggalkan jejak tanganku di jiwamu. ---“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar