*Entah mana yang lebih menyedihkan – kehilangan sesuatu yang
kita cintai, atau tidak pernah memilikinya sama sekali (Sandra Brown – Unspeakable (Tak Terucapkan))
*Kalau aku tidak tahu, berarti aku tidak kehilangan apa-apa. (Linda Howard – After The Night (Menanti
Fajar))
* “Ya Tuhan,” kata Gray, berusaha menguasai diri. Ia mengusap
mata dengan punggung tangannya. “Kau lugu sekali. Aku memang lancar berbahasa
Prancis, tapi itu bukan bahasa sehari-hariku.” Wajah Faith menunjukkan rasa
malu dan tampaknya dia tak mengerti apa yang dimaksud Gray sehingga ia
menjelaskannya kembali, “Sayang, kalau aku sempat berpikir untuk merayunya
dalam bahasa Prancis, berarti aku tidak sepenuhnya tenggelam dalam apa yang
sedang kulakukan. Kedengarannya mungkin indah, tapi tidak ada artinya.
Laki-laki itu berbeda dengan wanita; semakin bergairah, kami semakin seperti
manusia purba. Denganmu, berbicara bahasa Inggris saja susah, apalagi bahasa
Prancis. Hanya kata-kata tertentu saja yang kuingat.”
Linda Howard –
Almost Forever (Selamanya Cinta)
* Gosip memang punya cara tersendiri untuk menyenangkan
orang-orang yang menyebarkannya, terutama wanita-wanita pencemburu, kurang
pendidikan, dan tidak punya sopan santun.”
* “Aku selalu takut akan menumpahkan anggurku pada seseorang.”
Kata Claire di dalam mobil. “Memang tidak pernah terjadi, tetapi aku selalu
takut akan terjadi.”
Max menanggapi
itu dengan bijaksana, dan di bibirnya tersungging senyum tipis. “Aku pernah
menumpahkan anggurku di pangkuan seorang wanita. Gaunnya jadi transparan karena
basah, karena itu sangat kuingat. Lalu, pernah juga aku menggendong keponakanku
yang masih bayi, dan semua tahu betapa barbarnya bayi itu, tidak punya malu
atau kesopanan sama sekali, kalau dibandingkan dengan itu, menumpahkan anggur
tidak ada apa-apanya.”
*Takdir memang punya cara untuk memberinya kesempatan membalas
dendam.
*Harga diri tidak akan membayar tagihan-tagihanku.
* “Terus terang saja, tidak seorang pun perlu segala jenis perhiasan ini. Cincin pertunangan sama kunonya
dan sama tradisionalnya seperti cincin kawin biasa, hanya simbol untuk
memperingatkan pria-pria primitif lain bahwa kau sudah tidak bebas lagi.”
Meski masih
ragu Claire tidak bisa menahan dirinya tertawa melihat kilauan di mata Max.
“Oh, jadi itu yang kaulakukan, memperingatkan pria-pria primitif lainnya?”
“Kau tidak
pernah tahu ada insting lelaki purba di balik pakaian-pakaian sutra yang rapi.”
*Perasaan tidak lagi penting saat bertahan hidup menjadi
taruhannya. (Linda Howard, Raintree:
Inferno (Raintree 1: Penguasa Api))
*Jika ingin suatu pekerjaan diselesaikan dengan benar,
kerjakanlah sendiri. (Linda Howard,
Raintree: Inferno (Raintree 1: Penguasa Api))
Lisa Kleypas : Devil
In Winter (Romansa Pada Musim Dingin)
*Tha Gad Agam Ort = Cintaku untukmu
*Dan aku akan terus mencintaimu, sayangku
Sampai seluruh samudra mengering....
*Jangan pernah mencoba berbalik dari jalan yang baru – kau
tidak tahu petualangan apa yang menantimu.
* “Kau harus belajar mengabaikan perkataan orang,” gumam
Sebastian sembari menghampiri Evie. Lelaki itu berdiri di belakangnya, memegang
bahu Evie, membuatnya sedikit kaget. “Dengan begitu, kau akan jauh lebih
bahagia.” Mendadak suara suaminya diwarnai kegelian. “Aku belajar bahwa jika
gosip tentang orang lain itu seringkali benar, justru sebaliknya yang terjadi
jika menyangkut diri kita sendiri.”
*Kata ‘sopan’ menyiratkan ketidakpedulian.
* “Sejauh ini kau menghabiskan waktumu dengan berusaha
menyenangkan orang lain,” ia mendengar lelaki itu berkata. “Dengan tingkat
kesuksesan yang lumayan menyedihkan. Bagaimana kalau sekarang kau mencoba
menyenangkan dirimu sendiri? Apa salahnya kau hidup sesuai aturanmu sendiri?
Apa yang kau dapatkan dengan mematuhi aturan sosial?”
* “Hanya sedikit hal yang tidak bisa kaumiliki... Asalkan kau
berani meraihnya.”
* “Harga diri lelaki lebih rapuh daripada yang kaupikir. Mudah
sekali bagi kami untuk salah mengira sikap malu-malu dengan sikap dingin,
berdiam diri dengan ketidakpedulian. Kau bisa saja sedikit berusaha, tahu
tidak. Satu pertemuan singkat diantara kita berdua... satu senyuman darimu...
hanya itu dorongan yang kuperlukan untuk melahapmu seperti ayam di atas
piring.”
* Dalam hati Sebastian terpaksa mengakui bahwa ketiadaan
Westcliff dalam hidupnya mirip bisul di kaki yang terus-menerus tergesek dan
takkan pernah sembuh.
* “Dia tidak memercayai cinta, sama sepertiku.” Ia memelototi
Westcliff. “Beberapa kali kau pernah memberitahuku bahwa cinta itu khayalan
kaum laki-laki yang ingin membuat pernikahan terasa lebih menyenangkan?”
“Aku keliru,” sahut Westcliff. “Kenapa itu
membuatmu marah besar?”
*Namun Westcliff sudah belajar bahwa misteri cinta tidak
selalu bisa dijelaskan secara rasional. Terkadang keretakan dalam dua jiwa yang
berbeda justru menjadi perekat yang menyatukan mereka.
*Sebastian membuka mata dan dengan susah payah memusatkan
perhatian pada Evie. “Jika aku membutuhkan kemurahan hati Tuhan,” bisiknya,
“aku berada dalam masalah besar... kecuali kita bisa menemukan malaikat korup
yang bisa disuap.”
*Wanita itu mengulurkan tangan dan memeluk Evie sekali lagi,
dan berbicara ke rambut Evie yang berantakan dan kusut. “Kau tahu, dia takkan
mati. Hanya orang-orang baik dan saleh yang meninggal sebelum waktunya.”
Lillian tertawa pelan. “Sementara bajingan egois seperti St. Vincent berumur panjang untuk menyiksa orang lain.”
* “Aku ingin mengisi seluruh bagian dirimu... menghirup udara
dari paru-parumu... meninggalkan jejak tanganku di jiwamu. ---“
Tidak ada komentar:
Posting Komentar