Sabtu, 23 Mei 2015

PENGGALAN NOVEL (2)


Dan Brown: Deception Point (Titik Muslihat)

The Moment - 1

* "Ms. Sexton," ujar wartawan itu dengan cepat, "sebelum pergi, dapatkah Anda memberikan komentar tentang kabar angin bahwa Anda diundang makan pagi ini untuk membicarakan kemungkinan Anda meninggalkan kedudukan Anda sekarang demi kampanye ayah Anda?"
Rachel merasa seolah-olah seseorang telah menyiramkan kopi panas ke wajahnya. Dia betul-betul tidak siap menerima pertanyaan itu. Rachel menatap ayahnya dan merasakan, dari seringai sang ayah, bahwa pertanyaan wartawan itu telah diatur. Dia sangat ingin naik ke atas meja dan menusuk ayahnya dengan garpu.
Si wartawan menyodorkan perekamnya ke arah wajah Rachel. "Miss Sexton?"
Rachel menatap mata wartawan itu dengan tajam. "Ralph, atau siapa pun namamu, dengar ini baik-baik: Aku tidak punya niat meninggalkan pekerjaanku untuk bekerja pada Senator Sexton, dan jika kau memutar balik pernyataanku, kau akan memerlukan pencungkil sepatu untuk mengeluarkan perekam ini dari anusmu."

* Tampaknya urusan sang senator dengan putrinya itu juga sudah selesai. Dia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. "Dah, Sayang. Mampirlah ke kantorku seringsering. Dan menikahlah! Ingat, kau sudah 33 tahun sekarang."
"Tiga puluh empat," sergah Rachel. "Sekretaris Ayah saja ingat."
Senator Sexton berdecak dengan nada menyesal. "Tiga puluh empat. Hampir jadi perawan tua. Kautahu, ketika aku berusia 34, aku sudah—"
"Menikahi Ibu dan berselingkuh dengan tetangga?" Katakata itu terucap lebih keras dari yang dimaksudkan sehingga merusak ketenangan di restoran itu. Para tamu yang duduk di dekat mereka menoleh ke arah ayah dan anak ini.

* "Hey!" Rachel berseru pada si pilot. "Apa yang kau lakukan?" Suaranya hampir tidak terdengar karena ditimpali suara rotor helikopter yang menderu-deru. "Kau seharusnya membawaku ke Gedung Putih!"
Si pilot menggelengkan kepalanya. "Maaf, Bu. Presiden sedang tidak berada di Gedung Putih pagi ini."
Rachel mencoba mengingat -ingat apakah Pickering tadi menyebut-nyebut Gedung Putih secara khusus atau dia sendiri saja yang mengiranya demikian. "Jadi, Presiden sedang ada di mana?"
"Anda akan bertemu dengannya di tempat lain."
Kurang ajar. "Di tempat lain di mana?"
"Tidak jauh dari sini."
"Bukan itu yang kutanyakan."
"Enam belas mil lagi."
Rachel mengumpat dalam hati. Lelaki ini seharusnya menjadi politisi saja. "Apa kau pintar menghindari peluru sebaik kau menghindari pertanyaan?"
Pilot itu tidak menjawab.

* Di sana terdapat huruf-huruf setinggi enam kaki yang tertulis di badan pesawat dan bertuliskan "UNITED STATES OF AMERICA." Seorang perempuan anggota kabinet Inggris pernah menuduh Presiden Nixon "memamerkan kemaluannya di hadapannya" ketika sang presiden mengundangnya masuk ke dalam pesawat Air Force One. Semenjak itu, para awak pesawat sambil bergurau menjuluki pesawat tersebut dengan "BIG DICK."

* Segala yang ada di dalam ruangan itu mengesankan kekuasaan, dari aroma tembakau yang samar-samar tercium hingga simbol kepresidenan yang terlihat di mana-mana. Simbol yang berupa elang mencengkeram anak panah dan tangkai zaitun tersulam di atas bantal-bantal kecil, ada juga yang diukirkan pada ember es, dan bahkan dicapkan pada tatakan gelas dari gabus di atas meja bar. Rachel mengambil sebuah tatakan dan mengamatinya.
"Sudah mulai mencuri kenang-kenangan?" sebuah suara yang berat bertanya di belakangnya.
Rachel terkejut, dan saat dia memutar tubuhnya, dia menjatuhkan tatakan gelas itu ke atas lantai. Dengan gugup Rachel memungutnya. Ketika dia meraih tatakan gelas tersebut, dia mendongak dan melihat Presiden Amerika Serikat sedang menatap ke bawah, ke arahnya yang sedang berlutut, sambil tersenyum gembira.
"Aku bukan seorang bangsawan, Ms. Sexton. Tidak perlu berlutut seperti itu."

* Di depannya, duduk Gabrielle Ashe, asisten pribadinya yang berusia 24 tahun, dan sedang membacakan jadwal hariannya. Sexton hanya mendengarkannya sam-bil lalu.
Aku mencintai Washington, pikir Sexton sambil mengagumi bentuk tubuh sempurna asistennya di balik sweater-nya. Dari bahan cashmere. Kekuasaan adalah perangsang berahi yang paling hebat dari semuanya ... dan kekuasaan sanggup membawa sekumpulan perempuan seperti ini ke D. C.

* "Dengan satu tambahan baru. Menurutku kau akan menghadapi pukulan berbahaya dari kaum homoseksual karena komentarmu tadi malam dalam acara Larry King."
Sexton hanya mengangkat bahunya seperti tidak peduli. "Ya. Perkawinan sesama jenis kelamin."
Gabrielle menatapnya dengan tatapan tidak setuju. "Kau betul-betul mengecamnya dengan keras saat itu."
Perkawinan sesama jenis kelamin, pikir Sexton dengan jijik. Jika aku yang menentukan, orang-orang homoseksual itu bahkan tidak akan memiliki hak untuk memilih. "Baiklah, aku akan memperlunaknya."

* "Lima belas miliar setahun?" tanya penelepon pertama, suaranya terdengar terkejut sekali. "Miliar? Maksud Anda, kelas matematika anak saya dijejali terlalu banyak murid karena sekolah tidak memiliki jumlah guru yang cukup, dan NASA bisa menghabiskan lima belas miliar dolar setahun hanya untuk memotret debu angkasa luar?"

* Akhir-akhir ini, walau Gabrielle sadar dia sedang mendukung calon terkuat dalam kampanye pemilihan presiden kali ini, dia mulai bertanya-tanya apakah dia sedang mendukung calon terbaik. Terlibat secara langsung dengan Sexton telah membuka matanya. Ini seperti seorang anak yang mengikuti 'tur belakang layar' di Universal Studio lalu berkurang kekagumannya terhadap film karena ternyata Hollywood tidaklah seajaib itu.
Walau Gabrielle tetap percaya pada pesan-pesan Sexton, dia mulai meragukan si pembawa pesan.

* Rachel meragukannya. "Dalam pengalaman saya, Pak, bagi NASA tidak ada kabar yang betul-betul buruk." Menahan informasi bukanlah keahlian bagian hubungan masyarakat NASA. Lelucon di NRO adalah, NASA bahkan mengadakan konferensi pers setiap kali ada ilmuwan mereka yang buang angin.

* Rachel sudah tahu sejak pertama kali bekerja di bawah William Pickering, walaupun NASA dan NRO adalah dua lembaga yang terkait dengan ruang angkasa, mereka memiliki filosofi yang sangat bertolak belakang. NRO adalah lembaga pertahanan dan merahasiakan segala kegiatan mereka, sementara NASA adalah lembaga akademis dan sangat bersemangat untuk mengumumkan semua terobosan mereka kepada dunia. William Pickering sering tidak setuju dengan pengumuman tersebut karena pertimbangan keamanan nasional. Beberapa teknologi NASA yang paling canggih, seperti lensa beresolusi tinggi untuk teleskop satelit, sistem komunikasi jarak jauh, dan peralatan pencitraan radio, malah muncul di gudang senjata intelijen negara-negara musuh dan digunakan untuk balik memata-matai Amerika. Bill Pickering sering menggerutu bahwa para ilmuwan NASA memang berotak besar ... tetapi mulut mereka lebih besar lagi.

* Semua orang yang bekerja pada komunitas intelijen tahu, tanggapan mayoritas orang tentang penampakan dan penculikan oleh makhluk luar angkasa hanyalah produk khayalan yang terlalu liar atau ciptaan para penipu yang ingin mencari keuntungan. Ketika foto asli UFO betul-betul ada, anehnya benda asing tersebut muncul di dekat pangkalan udara militer Amerika Serikat yang sedang menguji pesawat rahasia canggih. Ketika perusahaan produsen pesawat Lockheed mulai melakukan pengujian udara sebuah pesawat jet yang disebut The Stealth Bomber, penampakan UFO di sekitar Edwards Air Force Base meningkat menjadi lima belas kali lipat.

* Mulut Rachel ternganga. Tuhan, tolong aku.
Di tengah-tengah hanggar terparkir sebuah jet tempur berwarna hitam yang terlihat begitu menyeramkan. Itu pesawat paling ramping yang pernah dilihat Rachel.
"Kau tidak becanda, kan?" tanya Rachel.
"Itu reaksi pertama yang biasa timbul, Bu. Tetapi F-14 Tomcat Split-tail ini adalah pesawat yang sangat handal."
Ini sih rudal bersayap.
Si pilot menuntun Rachel menuju pesawat itu. Dia menunjuk ke arah kokpit dengan dua tempat duduk. "Anda duduk di belakang."
"Oh ya?" Rachel berusaha tersenyum. "Tadinya kukira kau akan membiarkan aku mengemudi."

* Rachel kemudian memanjat masuk ke dalam kokpit. Dengan canggung, Rachel mengatur pinggulnya di tempat duduk yang sempit itu.
"NASA pasti tidak punya pilot dengan pantat gemuk," kata Rachel.

* "Kita akan terbang sangat tinggi," kata si pilot. "Anda akan membutuhkan oksigen." Dia lalu menarik topeng oksigen dari panel di sisi pesawat dan mulai memasangkannya ke helm Rachel.
"Aku bisa sendiri," kata Rachel sambil mengulurkan tangannya dan mengambil alih.
"Tentu saja, Bu."
Rachel mencoba-coba mengenakan masker yang dirancang dengan sangat pas itu, sampai akhirnya dia dapat memasangnya dengan baik. Berada di balik masker seperti itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Sang komandan menatapnya lama, dan tampak agak geli.
"Ada yang salah?" tanya Rachel.
"Sama sekali tidak, Bu." Dia terlihat berusaha menyembunyikan senyumannya. "Kantong muntah berada di bawah tempat duduk Anda. Kebanyakan orang akan merasa mual ketika pertama kali naik pesawat ini."
"Aku akan baik-baik saja," kata Rachel untuk meyakinkan si pilot. Suaranya terdengar samar-samar di balik topeng maskernya. "Aku tidak punya kecenderungan untuk mudah muntah."
Pilot itu hanya mengangkat bahunya. "Banyak anggota Navy Seal juga berkata seperti itu, tetapi ternyata saya sering membersihkan muntahan mereka dari kokpit saya."
Rachel hanya dapat mengangguk.
"Ada pertanyaan sebelum kita terbang?"
Rachel ragu-ragu sejenak dan kemudian dia mengetuk-ngetuk masker oksigen yang menghalangi dagunya. "Ini justru menghambat pernapasanku. Bagaimana kau mengenakan benda ini dalam penerbangan jangka panjang?"
Si pilot tersenyum dengan sabar. "Bu, kami biasanya tidak mengenakannya secara terbalik seperti itu."

* Ketika percakapan itu berakhir, si pilot meletakkan radionya, dan tiba-tiba membelokkan Tomcat itu ke kiri dengan tajam. Pesawat itu menanjak hampir tegak lurus ke atas. Dengan manuver seperti itu, Rachel merasa perutnya jungkir-balik. Akhirnya, pesawat itu kembali ke posisi mendatar.
Rachel mengerang. "Terima kasih atas atraksi akrobatnya, Bung."

* Dalam semenit, mereka sudah terbang dengan kecepatan hampir 1.500 mil per jam.
Sekarang Rachel merasa pusing. Ketika langit terbelah oleh pesawat yang menderu dalam kecepatan seperti itu, dia merasa sangat mual. Samar-samar suara Presiden menggema di telinganya. Tenanglah, Rachel. Kau tidak akan menyesal karena mau membantuku dalam masalah ini.
Rachel mengerang, lalu meraih kantung muntahnya. Jangan pernah memercayai seorang politisi.

* Hal yang paling mendominasi Ruang Oval adalah gambar burung elang Amerika yang menghiasi permadani di lantai ruangan tersebut. Cakar kiri elang tersebut mencengkeram ranting zaitun dan cakar kanannya mencengkeram seikat anak panah. Hanya sedikit orang luar yang tahu bahwa selama masa damai, si elang menoleh ke kiri, ke arah ranting zaitun, tetapi dalam masa perang, secara misterius si elang menoleh ke kanan, ke arah anak-anak panah.

* Misi-misi Delta Force adalah misi rahasia tingkat tinggi, dan begitu sebuah misi selesai, pasukan Delta Force tidak pernah membicarakannya lagi, baik dengan sesamanya maupun dengan komandan mereka di Special Operations Command.
Terbang. Bertempur. Lupakan.

* Marjorie Tench memang memiliki otak super seperti kom-puter, namun kehangatannya pun seperti komputer juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar