Dan Brown:
Deception Point (Titik Muslihat)
The Moment - 1
* "Ms. Sexton," ujar wartawan itu dengan cepat,
"sebelum pergi, dapatkah Anda memberikan komentar tentang kabar angin
bahwa Anda diundang makan pagi ini untuk membicarakan kemungkinan Anda
meninggalkan kedudukan Anda sekarang demi kampanye ayah Anda?"
Rachel merasa seolah-olah seseorang telah
menyiramkan kopi panas ke wajahnya. Dia betul-betul tidak siap menerima pertanyaan
itu. Rachel menatap ayahnya dan merasakan, dari seringai sang ayah, bahwa
pertanyaan wartawan itu telah diatur. Dia sangat ingin naik ke atas meja dan
menusuk ayahnya dengan garpu.
Si wartawan menyodorkan perekamnya ke arah
wajah Rachel. "Miss Sexton?"
Rachel menatap mata wartawan itu dengan tajam.
"Ralph, atau siapa pun namamu, dengar ini baik-baik: Aku tidak punya niat
meninggalkan pekerjaanku untuk bekerja pada Senator Sexton, dan jika kau
memutar balik pernyataanku, kau akan memerlukan pencungkil sepatu untuk
mengeluarkan perekam ini dari anusmu."
* Tampaknya urusan sang senator dengan putrinya itu juga sudah
selesai. Dia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. "Dah,
Sayang. Mampirlah ke kantorku seringsering. Dan menikahlah! Ingat, kau sudah 33
tahun sekarang."
"Tiga puluh empat," sergah
Rachel. "Sekretaris Ayah saja ingat."
Senator Sexton berdecak dengan nada
menyesal. "Tiga puluh empat. Hampir jadi perawan tua. Kautahu, ketika aku berusia
34, aku sudah—"
"Menikahi Ibu dan berselingkuh dengan
tetangga?" Katakata itu terucap lebih keras dari yang dimaksudkan sehingga
merusak ketenangan di restoran itu. Para tamu yang duduk di dekat mereka
menoleh ke arah ayah dan anak ini.
* "Hey!" Rachel berseru pada si pilot. "Apa
yang kau lakukan?" Suaranya hampir tidak terdengar karena ditimpali suara
rotor helikopter yang menderu-deru. "Kau seharusnya membawaku ke Gedung
Putih!"
Si pilot menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Bu. Presiden sedang tidak berada di Gedung Putih pagi ini."
Rachel mencoba mengingat -ingat apakah
Pickering tadi menyebut-nyebut Gedung Putih secara khusus atau dia sendiri saja
yang mengiranya demikian. "Jadi, Presiden sedang ada di mana?"
"Anda akan bertemu dengannya di tempat
lain."
Kurang ajar. "Di tempat
lain di mana?"
"Tidak jauh dari sini."
"Bukan itu yang kutanyakan."
"Enam belas mil lagi."
Rachel mengumpat dalam hati. Lelaki ini
seharusnya menjadi politisi saja. "Apa kau pintar menghindari peluru
sebaik kau menghindari pertanyaan?"
Pilot itu tidak menjawab.
* Di sana terdapat huruf-huruf setinggi enam kaki yang
tertulis di badan pesawat dan bertuliskan "UNITED STATES OF AMERICA."
Seorang perempuan anggota kabinet Inggris pernah menuduh Presiden Nixon "memamerkan
kemaluannya di hadapannya" ketika sang presiden mengundangnya masuk ke
dalam pesawat Air Force One. Semenjak itu, para awak pesawat sambil bergurau
menjuluki pesawat tersebut dengan "BIG DICK."
* Segala yang ada di dalam
ruangan itu mengesankan kekuasaan, dari aroma tembakau yang samar-samar tercium
hingga simbol kepresidenan yang terlihat di mana-mana. Simbol yang berupa elang
mencengkeram anak panah dan tangkai zaitun tersulam di atas bantal-bantal
kecil, ada juga yang diukirkan pada ember es, dan bahkan dicapkan pada tatakan
gelas dari gabus di atas meja bar. Rachel mengambil sebuah tatakan dan
mengamatinya.
"Sudah mulai mencuri
kenang-kenangan?" sebuah suara yang berat bertanya di belakangnya.
Rachel terkejut, dan saat dia memutar
tubuhnya, dia menjatuhkan tatakan gelas itu ke atas lantai. Dengan gugup Rachel
memungutnya. Ketika dia meraih tatakan gelas tersebut, dia mendongak dan
melihat Presiden Amerika Serikat sedang menatap ke bawah, ke arahnya yang
sedang berlutut, sambil tersenyum gembira.
"Aku bukan seorang bangsawan, Ms.
Sexton. Tidak perlu berlutut seperti itu."
* Di depannya, duduk Gabrielle Ashe, asisten pribadinya yang
berusia 24 tahun, dan sedang membacakan jadwal hariannya. Sexton hanya mendengarkannya
sam-bil lalu.
Aku mencintai Washington, pikir Sexton
sambil mengagumi bentuk tubuh sempurna asistennya di balik sweater-nya. Dari
bahan cashmere. Kekuasaan adalah perangsang berahi yang paling hebat
dari semuanya ... dan kekuasaan sanggup membawa sekumpulan perempuan
seperti ini ke D. C.
* "Dengan satu tambahan baru.
Menurutku kau akan menghadapi pukulan berbahaya dari kaum homoseksual karena komentarmu
tadi malam dalam acara Larry King."
Sexton hanya
mengangkat bahunya seperti tidak peduli. "Ya. Perkawinan sesama jenis
kelamin."
Gabrielle
menatapnya dengan tatapan tidak setuju. "Kau betul-betul mengecamnya
dengan keras saat itu."
Perkawinan sesama jenis
kelamin, pikir Sexton dengan jijik. Jika aku yang
menentukan, orang-orang homoseksual itu bahkan tidak akan memiliki hak
untuk memilih. "Baiklah, aku akan memperlunaknya."
* "Lima belas miliar
setahun?" tanya penelepon pertama, suaranya terdengar terkejut sekali.
"Miliar? Maksud Anda, kelas matematika anak saya dijejali terlalu banyak
murid karena sekolah tidak memiliki jumlah guru yang cukup, dan NASA bisa
menghabiskan lima belas miliar dolar setahun hanya untuk memotret debu angkasa
luar?"
* Akhir-akhir ini, walau Gabrielle
sadar dia sedang mendukung calon terkuat dalam kampanye pemilihan
presiden kali ini, dia mulai bertanya-tanya apakah dia sedang mendukung calon terbaik.
Terlibat secara langsung dengan Sexton telah membuka matanya. Ini seperti
seorang anak yang mengikuti 'tur belakang layar' di Universal Studio lalu berkurang
kekagumannya terhadap film karena ternyata Hollywood tidaklah seajaib itu.
Walau Gabrielle
tetap percaya pada pesan-pesan Sexton, dia mulai meragukan si pembawa pesan.
* Rachel meragukannya. "Dalam
pengalaman saya, Pak, bagi NASA tidak ada kabar yang betul-betul buruk."
Menahan informasi bukanlah keahlian bagian hubungan masyarakat NASA. Lelucon di
NRO adalah, NASA bahkan mengadakan konferensi pers setiap kali ada ilmuwan
mereka yang buang angin.
* Rachel sudah tahu sejak pertama
kali bekerja di bawah William Pickering, walaupun NASA dan NRO adalah dua lembaga
yang terkait dengan ruang angkasa, mereka memiliki filosofi yang sangat
bertolak belakang. NRO adalah lembaga pertahanan dan merahasiakan segala
kegiatan mereka, sementara NASA adalah lembaga akademis dan sangat bersemangat untuk
mengumumkan semua terobosan mereka kepada dunia. William Pickering sering tidak
setuju dengan pengumuman tersebut karena pertimbangan keamanan nasional.
Beberapa teknologi NASA yang paling canggih, seperti lensa beresolusi tinggi
untuk teleskop satelit, sistem komunikasi jarak jauh, dan peralatan pencitraan
radio, malah muncul di gudang senjata intelijen negara-negara musuh dan
digunakan untuk balik memata-matai Amerika. Bill Pickering sering menggerutu bahwa
para ilmuwan NASA memang berotak besar ... tetapi mulut mereka lebih besar
lagi.
* Semua orang yang bekerja pada
komunitas intelijen tahu, tanggapan mayoritas orang tentang penampakan dan
penculikan oleh makhluk luar angkasa hanyalah produk khayalan yang terlalu liar
atau ciptaan para penipu yang ingin mencari keuntungan. Ketika foto asli UFO
betul-betul ada, anehnya benda asing tersebut muncul di dekat pangkalan udara
militer Amerika Serikat yang sedang menguji pesawat rahasia canggih. Ketika
perusahaan produsen pesawat Lockheed mulai melakukan pengujian udara sebuah
pesawat jet yang disebut The Stealth Bomber, penampakan UFO di sekitar Edwards
Air Force Base meningkat menjadi lima belas kali lipat.
* Mulut Rachel ternganga. Tuhan,
tolong aku.
Di tengah-tengah
hanggar terparkir sebuah jet tempur berwarna hitam yang terlihat begitu
menyeramkan. Itu pesawat paling ramping yang pernah dilihat Rachel.
"Kau tidak
becanda, kan?" tanya Rachel.
"Itu reaksi
pertama yang biasa timbul, Bu. Tetapi F-14 Tomcat Split-tail ini adalah pesawat
yang sangat handal."
Ini sih rudal bersayap.
Si pilot
menuntun Rachel menuju pesawat itu. Dia menunjuk ke arah kokpit dengan dua tempat
duduk. "Anda duduk di belakang."
"Oh
ya?" Rachel berusaha tersenyum. "Tadinya kukira kau akan membiarkan
aku mengemudi."
* Rachel kemudian memanjat masuk ke
dalam kokpit. Dengan canggung, Rachel mengatur pinggulnya di tempat duduk yang
sempit itu.
"NASA pasti
tidak punya pilot dengan pantat gemuk," kata Rachel.
* "Kita akan terbang sangat
tinggi," kata si pilot. "Anda akan membutuhkan oksigen." Dia
lalu menarik topeng oksigen dari panel di sisi pesawat dan mulai memasangkannya
ke helm Rachel.
"Aku bisa
sendiri," kata Rachel sambil mengulurkan tangannya dan mengambil alih.
"Tentu
saja, Bu."
Rachel
mencoba-coba mengenakan masker yang dirancang dengan sangat pas itu, sampai
akhirnya dia dapat memasangnya dengan baik. Berada di balik masker seperti itu membuatnya
merasa tidak nyaman.
Sang komandan
menatapnya lama, dan tampak agak geli.
"Ada yang
salah?" tanya Rachel.
"Sama
sekali tidak, Bu." Dia terlihat berusaha menyembunyikan senyumannya.
"Kantong muntah berada di bawah tempat duduk Anda. Kebanyakan orang akan
merasa mual ketika pertama kali naik pesawat ini."
"Aku akan
baik-baik saja," kata Rachel untuk meyakinkan si pilot. Suaranya terdengar
samar-samar di balik topeng maskernya. "Aku tidak punya kecenderungan
untuk mudah muntah."
Pilot itu hanya
mengangkat bahunya. "Banyak anggota Navy Seal juga berkata seperti itu,
tetapi ternyata saya sering membersihkan muntahan mereka dari kokpit
saya."
Rachel hanya
dapat mengangguk.
"Ada
pertanyaan sebelum kita terbang?"
Rachel ragu-ragu
sejenak dan kemudian dia mengetuk-ngetuk masker oksigen yang menghalangi
dagunya. "Ini justru menghambat pernapasanku. Bagaimana kau mengenakan benda
ini dalam penerbangan jangka panjang?"
Si pilot
tersenyum dengan sabar. "Bu, kami biasanya tidak mengenakannya secara
terbalik seperti itu."
* Ketika percakapan itu berakhir,
si pilot meletakkan radionya, dan tiba-tiba membelokkan Tomcat itu ke kiri dengan
tajam. Pesawat itu menanjak hampir tegak lurus ke atas. Dengan manuver seperti
itu, Rachel merasa perutnya jungkir-balik. Akhirnya, pesawat itu kembali ke
posisi mendatar.
Rachel
mengerang. "Terima kasih atas atraksi akrobatnya, Bung."
* Dalam semenit, mereka sudah
terbang dengan kecepatan hampir 1.500 mil per jam.
Sekarang Rachel
merasa pusing. Ketika langit terbelah oleh pesawat yang menderu dalam kecepatan
seperti itu, dia merasa sangat mual. Samar-samar suara Presiden menggema di
telinganya. Tenanglah, Rachel. Kau tidak akan menyesal karena mau
membantuku dalam masalah ini.
Rachel
mengerang, lalu meraih kantung muntahnya. Jangan pernah memercayai seorang
politisi.
* Hal yang paling mendominasi Ruang
Oval adalah gambar burung elang Amerika yang menghiasi permadani di lantai
ruangan tersebut. Cakar kiri elang tersebut mencengkeram ranting zaitun dan
cakar kanannya mencengkeram seikat anak panah. Hanya sedikit orang luar yang
tahu bahwa selama masa damai, si elang menoleh ke kiri, ke arah ranting zaitun,
tetapi dalam masa perang, secara misterius si elang menoleh ke kanan, ke arah
anak-anak panah.
* Misi-misi Delta Force adalah misi
rahasia tingkat tinggi, dan begitu sebuah misi selesai, pasukan Delta Force
tidak pernah membicarakannya lagi, baik dengan sesamanya maupun dengan komandan
mereka di Special Operations Command.
Terbang. Bertempur.
Lupakan.
* Marjorie Tench memang memiliki otak
super seperti kom-puter, namun kehangatannya pun seperti komputer juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar