Lisa Kleypas: Scandal
In Spring (Skandal Musim Semi)
* “Kukira kau ingin dirimu berguna,” geram Bowman. Sudah
menjadi sifatnya untuk menekan pemberontakan dengan kekuasaan. “Kupikir kau
ingin punya suami dan rumah sendiri daripada terus menjadi parasit seperti sekarang.”
Daisy
mengernyit seakan habis kena tampar. “Aku bukan parasit.”
“Oh? kalau
begitu coba jelaskan keuntungan apa yang telah kauberikan dari kehadiranmu di
dunia ini? Apa yang telah kaulakukan bagi semua orang?”
* “Daisy,” ucap Westcliff dengan lembut, “hidup manusia tidak
diukur dengan prestasi hebat yang diraihnya. Melainkan oleh hal-hal kecil.
setiap kali kau melakukan kebajikan kepada seseorang atau membuat orang lain
tersenyum, hidupmu mejadi lebih bermakna. Jangan pernah meragukan arti dirimu,
sobat kecilku. Dunia akan menjadi tempat yang suram tanpa Daisy Bowman di
dalamnya.”
* Daisy mendendangkan lagu rakyat yang ceria berjudul “Old
Maid In The Garret." - Perawan Tua di dalam Loteng:
Datanglah pria kaya, datanglah pria miskin,
Datanglah pria bodoh maupun cerdik,
Datanglah pria mana pun
Maukah kau menikahiku karena iba?
* Pria yang lebih tua itu mengibaskan tangannya. “Bah. Jalan
pikiran perempuan sangat mudah berubah, persis seperti cuaca di Inggris. Kau
bisa membujuknya untuk menyukaimu. Berikan dia seikat bunga, rayu dia... lebih
baik lagi kalau mengutip kata-kata dari buku puisi sialan yang selalu dibacanya
itu. Merayu wanita itu gampang, Swift. Yang perlu kaulakukan hanyalah-“
* “St. Vincent sungguh pemilih. Kalau dia seorang wanita,
tidak akan ada laki-laki yang cukup baik di matanya.”
“Tidak akan
ada,” kata Lillian dengan angkuh. “Itulah sebabnya kami para wanita punya
pepatah... ‘Bidiklah yang tinggi, lalu nikmatilah.’”
Marcus
mendengus. “Itukah yang kaulakukan?”
“Seulas senyum
mengembang di bibir Lillian. “Tidak, My Lord. Aku membidik yang tinggi dan
mendapat jauh lebih baik daripada yang kubayangkan.”
* Waktu Swift kembali ke meja, Isabelle sudah setengah
mengantuk dan mendesah, mulutnya masih terkatup erat pada kantung es yang
dibuat dari sapu tangan tadi.
“Oh, Mr.
Swift,” kata Anabelle penuh terima kasih sambil mengambil anaknya kembali,
“Anda sungguh pintar! Terima kasih.”
“Apa yang
kaukatakan padanya?” cecar Lillian.
Swift melirik
ke arah Lillian dan menjawab datar, “Kupikir aku harus mengalihkan perhatiannya
cukup lama supaya es itu membuat gusinya masti rasa. Jadi aku memberi
penjelasan mendetail tentang perjanjian Buttonwood tahun 1792.”
Daisy berbicara
untuk pertama kalinya. “Apa isinya?”
---
“Perjanjian
Buttonwood menghasilkan pembentukan New York Stock and Exchange Board,” kata
Swift. “Kupikir itu cukup informatif, tapi tampaknya Miss Isabelle kehilangan
minat ketika aku mulai menerangkan tentang fee-structuring
compromise.”
“Oh begitu,”
kata Daisy. “Kau membuat bayi itu bosan hingga tertidur.”
---
(Mr. Swift,
red) Sambil melirik Anabelle ia menambahkan dengan kidmat, “Putri Anda sangat
menawan, Madam. Saya akan mengabaikan ketidaktertarikannya pada kuliah bisnis
saya.”
“Anda sungguh
baik, Sir.” Jawab Anabelle, matanya berbinar-binar.
* “Aku sama sekali tidak mengerti permainan boling.”
“Bagus. Minta
mereka untuk mengajarimu. Jika ada yang amat disukai kaum lelaki, itu adalah
mengajari wanita bagaimana melakukan sesuatu.”
* “Aku lebih suka tidak mengundang wanita yang belum menikah
ke Hampshire,” kata Lillian, “tapi kata Westcliff itu terlalu mencolok.
Untungnya kau lebih cantik daripada mereka semua. Meskipun kau pendek.”
“Aku tidak
pendek,” protes Daisy.
“Mungil kalau
begitu.”
“Aku juga tidak
suka kata itu. Membuatku terdengar remeh.”
“Itu masih
lebih bagus daripada disebut cebol,” kata Lillian, “satu-satunya kata yang
terpikirkan untuk menggambarkan tubuhmu yang kurang tinggi.”
* Jangan pernah memberikan musuh luka yang kecil – Machiavelli
* “Aku selalu bermain untuk menang,” kata Swift kepada Daisy.
“Ya Tuhan,”
ucap Daisy putus asa, “kau terdengar persis seperti ayahku. Pernahkah kau
terpikir bahwa orang lain bermain hanya untuk bersenang-senang? Sebagai
aktivitas menyenangkan untuk menghabiskan waktu? Atau haruskah segala sesuatu
dijadikan persaingan hidup-mati?”
“Kalau kau
tidak bermain untuk menang, maka permainan itu tidak punya tujuan.”
* Kalau kita bertekad kuat, segala kendala pasti bisa diatasi
– Machiavelli
* “--- kau akan mendapati dia makhluk paling menyebalkan yang
pernah kautemui. Tapi kemudian kau akan menyadari meskipun dia membuatmu gila,
kau nyaris tidak sabar menunggu untuk bertemu lagi dengannya. Seperti penyakit
mematikan, ia akan terus menyebar dari satu organ tubuh ke organ tubuh lain.
Kau akan mulai menginginkannya. Semua wanita menjadi pucat dan membosankan
kalau diperbandingkan dengannya. Kau akan menginginkannya sampai kau mengira
kau akan gila. kau tidak akan berhenti memikirkannya-“
“Aku sama
sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” sela Matthew, wajahnya berubah
pucat. Ia tidak akan tunduk pada penyakit mematikan. Pria punya pilihan dalam
menjalani hidup. Dan tak peduli apapun yang dikatakan Westcliff, ini tak lebih
dari kebutuhan fisik. Kebutuhan fisik yang amat kuat, meremukkan kesadaran dan
keberanian... tetapi dapat ditundukkan dengan tekad kuat.
“Terserah apa
katamu,” kata Westcliff, terdengar tak yakin.
* “Tapi apakah menurut anda,” terdengar suara Mr. Mardling,
“masih tersedia pangsa pasar untuk melakukan perluasan? Lagi pula, yang kita
bicarakan ini masyarakat kelas bawah. Tak peduli apa pun kebangsaan mereka,
sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mereka tidak sering mandi.”
Matthew
menyeret kembali perhatiannya ke pria tinggi parlente, yang rambut pirangnya
bersinar begitu terang di bawah sinar lampu kandelir. Sebelum menjawab, ia
memperingatkan diri bahwa mungkin tidak ada maksud jahat di balik pertanyaan
itu. Mereka yang berasal dari masyarakat terpandang sering kali punya pemikiran
yang salah tentang orang miskin, kalaupun mereka mau repot-repot memikirkan hal
itu.
“Sebenarnya,”
ujar Matthew tenang, “angka-angka yang ada menunjukkan bahwa begitu sabun
diproduksi secara besar-besaran dengan harga terjangkau, pangsa pasar akan
meningkat tepatnya sepuluh persen per tahun. Orang dari semua lapisan
masyarakat ingin bersih, Mr. Mardling. Masalahnya adalah sabun berkualitas
bagus selalu menjadi barang mewah dan dengan demikian sulit didapat.”
“Produksi
besar-besaran,” renung Mardling lantang, wajahnya berkerut karena berpikir
keras. “Ada sesuatu yang tidak bisa diterima dari kata itu... sepertinya itu
memberi jalan bagi masyarakat kelas bawah untuk meniru kelas atas.”
Matthew melirik
para pria yang berdiri membentuk lingkaran itu, dan melihat puncak kepala
Bowman sudah berubah merah – bukan pertanda bagus – dan Westcliff tetap diam,
matanya yang hitam tak terbaca.
“Memang tepat
seperti itu, Mr. Mardling,” kata Matthew dengan susah payah. “Produksi barang
secara besar-besaran seperti baju dan sabun akan memberi kesempatan bagi orang
miskin untuk menikmati standar kehidupan seperti kita.”
“Tapi bagaimana
kita bisa membedakan siapa dengan siapa?”
Matthew menatap
pria itu tak mengerti. “Sepertinya saya tidak mengerti.”
Llandrindon
bergabung dalam pembicaraan itu. “Saya yakin yang dimaksudkan oleh Mardling,”
ia berkata, “adalah bagaimana kita dapat membedakan antara gadis pelayan toko
dengan wanita berada kalau dua-duanya sama-sama bersih dan dipakaikan pakaian
yang sama. Dan kalau seorang pria tak dapat membedakan mereka dari penampilan,
bagaimana dia bisa menentukan cara memperlakukan mereka?”
Terpana pada
keangkuhan pertanyaan itu, Matthew memikirkan jawabannya dengan hati-hati.
“Saya selalu berpikir semua wanita harus diperlakukan dengan hormat tak peduli
apapun kedudukan mereka.”
“Penjelasan
yang bagus,” kata Westcliff masam, sewaktu Llandrindon membuka mulut untuk
membantah.
Tak seorang pun
berani membantah sang earl, tapi Mardling tetap ngotot, “Westcliff, apakah kau
tak melihat bahayanya menyemangati rakyat miskin untuk maik di atas kedudukan
mereka? Dengan mengizinkan mereka berpura-pura bahwa tak ada perbedaan antara
mereka dan kita?”
“Satu-satunya
bahaya yang kulihat,” ujar Westcliff tenang, “adalah mengecilkan semangat
rakyat miskin yang ingin memperbaiki kehidupan mereka, hanya karena takut kita
akan kehilangan kekuasaan yang sudah ada.”
* “My Lord,” ujar Daisy, “bolehkah aku berbicara sebentar
denganmu?”
Meskipun Daisy
berbicara dengan tenang, ekspresi wajahnya pasti telah membuat Westcliff
waspada. Pria itu segera mendekati Daisy. “Ya, Daisy?”
“Mengenai
kakakku,” bisik Daisy. “Sepertinya dia akan melahirkan.”
Daisy tak
pernah melihat sang earl tampak begitu terkejut.
“Ini terlalu
cepat,” katanya.
“Sepertinya
sang bayi tidak berpikir begitu.”
“Tapi... ini di
luar jadwal.” Sang earl tampak benar-benar bingung karena anaknya tidak melihat
tanggalan dulu sebelum memutuskan untuk lahir.
* “Evie”, tanya Daisy, “bagaimana dulu kau bisa tahu jika kau
jatuh cinta pada seseorang?”
Evie memikirkan
pertanyaan itu ketika mereka melewati pagar tanaman yang melingkari pepohonan primula yang sedang mekar
berwarna-warni. “Aku yakin saat ini seharusnya aku mengatakan sesuatu yang
bijaksana dan membantu,” kata Evie sambil mengangkat bahu. “Tapi situasiku
berbeda denganmu. St. Vincent dan aku tidak menduga akan jatuh cinta. Kami
berdua tak pernah menyangka.”
“Ya, tapi
bagaimana kau bisa tahu?”
“Ketika aku
menyadari dia bersedia mati untukku. Kurasa tak seorang pun, termasuk St.
Vincent, percaya dia bisa mengorbankan diri seperti itu. Jadi aku mengambil
pelajaran bahwa kita bisa saja mengatakan sudah mengenal seseorang – tapi orang
itu bisa mengejutkanmu. Mulai saat itu semuanya akan berubah – tiba-tiba dia
menjadi orang yang sangat penting bagiku. Bukan, bukan penting... tapi yang harus ada. Oh, andai saja aku bisa
mencari kata-kata yang lebih tepat–“
* “Mungkin Llandrindon pasangan yang terbaik untuk Daisy,”
ucap Matthew keras kepala. “Tampaknya mereka saling menyukai.”
“Ini bukan
tentang rasa suka, ini tentang pernikahan!” Puncak kepala Bowman mulai berubah
merah. “Kau tahu seberapa banyak yang dipertaruhkan?”
“Selain taruhan
finansial?”
“Memangnya
taruhan apa lagi?”
Matthew
melemparkan pandangan geli. “Cinta putri Anda. Kebahagiaannya di masa
mendatang...”
“Bah! Orang
menikah bukan mencari kebahagiaan. Atau jika pun demikian, mereka dengan segera
mendapati itu hanya omong kosong.”
* Benak Daisy berpacu ketika ia menatap sosok Matthew yang
keras. Ini bukan hanya sekedar sikap keras kepala. Ini adalah kepercayaan. Pria
itu tidak membuka ruang untuk berargumentasi, tidak ada jalan untuk negosiasi.
“Kalau begitu,
bolehkah aku menemui Llandrindon?” tanya Daisy, berharap dapat memanas-manasi
Matthew.
“Ya.”
Daisy
memberengut. “Coba kau bisa konsisten. Beberapa menit yang lalu kau siap
mencincangnya.”
“Kalau kau
menyukai dia, aku tak punya hak untuk menghalangi.”
“Kalau kau
menyukaiku, kau punya hak untuk mengatakan sesuatu!” Daisy berderap menuju
pintu. “Mengapa semua orang selalu berkata wanita tidak berpikir logis padahal
pria seratus kali lebih tidak logis? Mula-mula mereka mau sesuatu, kemudian
tidak lagi, sekarang mereka membuat keputusan tak masuk akal berdasarkan
rahasia yang tak ingin mereka jelaskan dan tak boleh ada orang yang mempertanyakannya
karena kata-kata seorang pria adalah mutlak.”
* Matthew adalah satu-satunya pria yang menyukai ia apa
adanya. (Meskipun ia mengesampingkan Llandrindon, berhubung ketertarikan pria
itu muncul amat cepat dan mungkin akan menghilang dengan cepat juga.)
Dalam situasi
ini, pikir Daisy, kehidupan perkawinan dengan Matthew tidak akan sama seperti
Lillian dengan Westcliff. Sebagai dua pribadi berkemauan kuat dengan pandangan
hidup yang berlainan, Lillian dan Westcliff sering bertengkar dan bermusyawarah...
tetapi tampaknya hal itu tidak melemahkan perkawinan mereka. Malah sebaliknya –
pernikahan mereka tampaknya menjadi lebih hidup.
Ia memikirkan
kehidupan perkawinan para sahabatnya... Annabelle dan Mr. Hunt sebagai
penyatuan dua kepribadian yang sama... Evie dan Lord St. Vincent dengan sifat
yang saling bertolak belakang, masing-masing diperlukan oleh yang lain seperti
siang dan malam. Sungguh sulit mengatakan yang mana diantara mereka yang lebih
berkuasa.
Meskipun ia
sering mendengar gagasan tentang bagaimana kehidupan perkawinan ideal, hal
semacam itu mungkin tak pernah ada. Mungkin setiap pernikahan adalah sesuatu
yang unik.
Pemikiran itu
membuatnya tenang.
Dan memenuhi
Daisy dengan harapan.
* Daisy amat ingin menembus rahasia yang disimpan pria itu
dengan keras kepala. Ia bisa gila kalau terus menerus penasaran ingin
mengetahui rahasia pria itu. Hubungan mereka seperti cerminan teori Hegel...
sesuatu selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu yang lain, tak pernah
mencapai kesempurnaan.
* Tubuh Matthew mungkin tidak akan pernah dapat ditemukan.
Kenyataan itu terlalu kejam, ia harus menerima takdir. Entah mengapa ketiadaan
jasad terasa lebih buruk daripada kematian itu sendiri – seakan-akan orangnya
tidak pernah ada, tak meninggalkan apa pun untuk ditangisi, ia dulu tak dapat
mengerti mengapa ada orang yang ingin melihat jasad orang yang dikasihinya.
Sekarang ia paham. Itu adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri mimpi buruk
yang nyata dan mungkin menjadi pelepas bagi air mata dan rasa sakitnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar