Sabtu, 23 Mei 2015

PENGGALAN NOVEL (1)


Lisa Kleypas: Scandal In Spring (Skandal Musim Semi)


* “Kukira kau ingin dirimu berguna,” geram Bowman. Sudah menjadi sifatnya untuk menekan pemberontakan dengan kekuasaan. “Kupikir kau ingin punya suami dan rumah sendiri daripada terus menjadi parasit seperti sekarang.”
          Daisy mengernyit seakan habis kena tampar. “Aku bukan parasit.”
          “Oh? kalau begitu coba jelaskan keuntungan apa yang telah kauberikan dari kehadiranmu di dunia ini? Apa yang telah kaulakukan bagi semua orang?”

* “Daisy,” ucap Westcliff dengan lembut, “hidup manusia tidak diukur dengan prestasi hebat yang diraihnya. Melainkan oleh hal-hal kecil. setiap kali kau melakukan kebajikan kepada seseorang atau membuat orang lain tersenyum, hidupmu mejadi lebih bermakna. Jangan pernah meragukan arti dirimu, sobat kecilku. Dunia akan menjadi tempat yang suram tanpa Daisy Bowman di dalamnya.”

* Daisy mendendangkan lagu rakyat yang ceria berjudul “Old Maid In The Garret." - Perawan Tua di dalam Loteng:

          Datanglah pria kaya, datanglah pria miskin,
          Datanglah pria bodoh maupun cerdik,
          Datanglah pria mana pun
          Maukah kau menikahiku karena iba?

* Pria yang lebih tua itu mengibaskan tangannya. “Bah. Jalan pikiran perempuan sangat mudah berubah, persis seperti cuaca di Inggris. Kau bisa membujuknya untuk menyukaimu. Berikan dia seikat bunga, rayu dia... lebih baik lagi kalau mengutip kata-kata dari buku puisi sialan yang selalu dibacanya itu. Merayu wanita itu gampang, Swift. Yang perlu kaulakukan hanyalah-“

* “St. Vincent sungguh pemilih. Kalau dia seorang wanita, tidak akan ada laki-laki yang cukup baik di matanya.”
          “Tidak akan ada,” kata Lillian dengan angkuh. “Itulah sebabnya kami para wanita punya pepatah... ‘Bidiklah yang tinggi, lalu nikmatilah.’”
          Marcus mendengus. “Itukah yang kaulakukan?”
          “Seulas senyum mengembang di bibir Lillian. “Tidak, My Lord. Aku membidik yang tinggi dan mendapat jauh lebih baik daripada yang kubayangkan.”

* Waktu Swift kembali ke meja, Isabelle sudah setengah mengantuk dan mendesah, mulutnya masih terkatup erat pada kantung es yang dibuat dari sapu tangan tadi.
          “Oh, Mr. Swift,” kata Anabelle penuh terima kasih sambil mengambil anaknya kembali, “Anda sungguh pintar! Terima kasih.”
          “Apa yang kaukatakan padanya?” cecar Lillian.
          Swift melirik ke arah Lillian dan menjawab datar, “Kupikir aku harus mengalihkan perhatiannya cukup lama supaya es itu membuat gusinya masti rasa. Jadi aku memberi penjelasan mendetail tentang perjanjian Buttonwood tahun 1792.”
          Daisy berbicara untuk pertama kalinya. “Apa isinya?”
          ---
          “Perjanjian Buttonwood menghasilkan pembentukan New York Stock and Exchange Board,” kata Swift. “Kupikir itu cukup informatif, tapi tampaknya Miss Isabelle kehilangan minat ketika aku mulai menerangkan tentang fee-structuring compromise.”
          “Oh begitu,” kata Daisy. “Kau membuat bayi itu bosan hingga tertidur.”
          ---
          (Mr. Swift, red) Sambil melirik Anabelle ia menambahkan dengan kidmat, “Putri Anda sangat menawan, Madam. Saya akan mengabaikan ketidaktertarikannya pada kuliah bisnis saya.”
          “Anda sungguh baik, Sir.” Jawab Anabelle, matanya berbinar-binar.

* “Aku sama sekali tidak mengerti permainan boling.”
          “Bagus. Minta mereka untuk mengajarimu. Jika ada yang amat disukai kaum lelaki, itu adalah mengajari wanita bagaimana melakukan sesuatu.”

* “Aku lebih suka tidak mengundang wanita yang belum menikah ke Hampshire,” kata Lillian, “tapi kata Westcliff itu terlalu mencolok. Untungnya kau lebih cantik daripada mereka semua. Meskipun kau pendek.”
          “Aku tidak pendek,” protes Daisy.
          “Mungil kalau begitu.”
          “Aku juga tidak suka kata itu. Membuatku terdengar remeh.”
          “Itu masih lebih bagus daripada disebut cebol,” kata Lillian, “satu-satunya kata yang terpikirkan untuk menggambarkan tubuhmu yang kurang tinggi.”

* Jangan pernah memberikan musuh luka yang kecil – Machiavelli

* “Aku selalu bermain untuk menang,” kata Swift kepada Daisy.
          “Ya Tuhan,” ucap Daisy putus asa, “kau terdengar persis seperti ayahku. Pernahkah kau terpikir bahwa orang lain bermain hanya untuk bersenang-senang? Sebagai aktivitas menyenangkan untuk menghabiskan waktu? Atau haruskah segala sesuatu dijadikan persaingan hidup-mati?”
          “Kalau kau tidak bermain untuk menang, maka permainan itu tidak punya tujuan.”

* Kalau kita bertekad kuat, segala kendala pasti bisa diatasi – Machiavelli

* “--- kau akan mendapati dia makhluk paling menyebalkan yang pernah kautemui. Tapi kemudian kau akan menyadari meskipun dia membuatmu gila, kau nyaris tidak sabar menunggu untuk bertemu lagi dengannya. Seperti penyakit mematikan, ia akan terus menyebar dari satu organ tubuh ke organ tubuh lain. Kau akan mulai menginginkannya. Semua wanita menjadi pucat dan membosankan kalau diperbandingkan dengannya. Kau akan menginginkannya sampai kau mengira kau akan gila. kau tidak akan berhenti memikirkannya-“
          “Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” sela Matthew, wajahnya berubah pucat. Ia tidak akan tunduk pada penyakit mematikan. Pria punya pilihan dalam menjalani hidup. Dan tak peduli apapun yang dikatakan Westcliff, ini tak lebih dari kebutuhan fisik. Kebutuhan fisik yang amat kuat, meremukkan kesadaran dan keberanian... tetapi dapat ditundukkan dengan tekad kuat.
          “Terserah apa katamu,” kata Westcliff, terdengar tak yakin.

* “Tapi apakah menurut anda,” terdengar suara Mr. Mardling, “masih tersedia pangsa pasar untuk melakukan perluasan? Lagi pula, yang kita bicarakan ini masyarakat kelas bawah. Tak peduli apa pun kebangsaan mereka, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mereka tidak sering mandi.”
          Matthew menyeret kembali perhatiannya ke pria tinggi parlente, yang rambut pirangnya bersinar begitu terang di bawah sinar lampu kandelir. Sebelum menjawab, ia memperingatkan diri bahwa mungkin tidak ada maksud jahat di balik pertanyaan itu. Mereka yang berasal dari masyarakat terpandang sering kali punya pemikiran yang salah tentang orang miskin, kalaupun mereka mau repot-repot memikirkan hal itu.
          “Sebenarnya,” ujar Matthew tenang, “angka-angka yang ada menunjukkan bahwa begitu sabun diproduksi secara besar-besaran dengan harga terjangkau, pangsa pasar akan meningkat tepatnya sepuluh persen per tahun. Orang dari semua lapisan masyarakat ingin bersih, Mr. Mardling. Masalahnya adalah sabun berkualitas bagus selalu menjadi barang mewah dan dengan demikian sulit didapat.”
          “Produksi besar-besaran,” renung Mardling lantang, wajahnya berkerut karena berpikir keras. “Ada sesuatu yang tidak bisa diterima dari kata itu... sepertinya itu memberi jalan bagi masyarakat kelas bawah untuk meniru kelas atas.”
          Matthew melirik para pria yang berdiri membentuk lingkaran itu, dan melihat puncak kepala Bowman sudah berubah merah – bukan pertanda bagus – dan Westcliff tetap diam, matanya yang hitam tak terbaca.
          “Memang tepat seperti itu, Mr. Mardling,” kata Matthew dengan susah payah. “Produksi barang secara besar-besaran seperti baju dan sabun akan memberi kesempatan bagi orang miskin untuk menikmati standar kehidupan seperti kita.”
          “Tapi bagaimana kita bisa membedakan siapa dengan siapa?”
          Matthew menatap pria itu tak mengerti. “Sepertinya saya tidak mengerti.”
          Llandrindon bergabung dalam pembicaraan itu. “Saya yakin yang dimaksudkan oleh Mardling,” ia berkata, “adalah bagaimana kita dapat membedakan antara gadis pelayan toko dengan wanita berada kalau dua-duanya sama-sama bersih dan dipakaikan pakaian yang sama. Dan kalau seorang pria tak dapat membedakan mereka dari penampilan, bagaimana dia bisa menentukan cara memperlakukan mereka?”
          Terpana pada keangkuhan pertanyaan itu, Matthew memikirkan jawabannya dengan hati-hati. “Saya selalu berpikir semua wanita harus diperlakukan dengan hormat tak peduli apapun kedudukan mereka.”
          “Penjelasan yang bagus,” kata Westcliff masam, sewaktu Llandrindon membuka mulut untuk membantah.
          Tak seorang pun berani membantah sang earl, tapi Mardling tetap ngotot, “Westcliff, apakah kau tak melihat bahayanya menyemangati rakyat miskin untuk maik di atas kedudukan mereka? Dengan mengizinkan mereka berpura-pura bahwa tak ada perbedaan antara mereka dan kita?”
          “Satu-satunya bahaya yang kulihat,” ujar Westcliff tenang, “adalah mengecilkan semangat rakyat miskin yang ingin memperbaiki kehidupan mereka, hanya karena takut kita akan kehilangan kekuasaan yang sudah ada.”

* “My Lord,” ujar Daisy, “bolehkah aku berbicara sebentar denganmu?”
          Meskipun Daisy berbicara dengan tenang, ekspresi wajahnya pasti telah membuat Westcliff waspada. Pria itu segera mendekati Daisy. “Ya, Daisy?”
          “Mengenai kakakku,” bisik Daisy. “Sepertinya dia akan melahirkan.”
          Daisy tak pernah melihat sang earl tampak begitu terkejut.
          “Ini terlalu cepat,” katanya.
          “Sepertinya sang bayi tidak berpikir begitu.”
          “Tapi... ini di luar jadwal.” Sang earl tampak benar-benar bingung karena anaknya tidak melihat tanggalan dulu sebelum memutuskan untuk lahir.

* “Evie”, tanya Daisy, “bagaimana dulu kau bisa tahu jika kau jatuh cinta pada seseorang?”
          Evie memikirkan pertanyaan itu ketika mereka melewati pagar tanaman yang melingkari pepohonan primula yang sedang mekar berwarna-warni. “Aku yakin saat ini seharusnya aku mengatakan sesuatu yang bijaksana dan membantu,” kata Evie sambil mengangkat bahu. “Tapi situasiku berbeda denganmu. St. Vincent dan aku tidak menduga akan jatuh cinta. Kami berdua tak pernah menyangka.”
          “Ya, tapi bagaimana kau bisa tahu?”
          “Ketika aku menyadari dia bersedia mati untukku. Kurasa tak seorang pun, termasuk St. Vincent, percaya dia bisa mengorbankan diri seperti itu. Jadi aku mengambil pelajaran bahwa kita bisa saja mengatakan sudah mengenal seseorang – tapi orang itu bisa mengejutkanmu. Mulai saat itu semuanya akan berubah – tiba-tiba dia menjadi orang yang sangat penting bagiku. Bukan, bukan penting... tapi yang harus ada. Oh, andai saja aku bisa mencari kata-kata yang lebih tepat–“

* “Mungkin Llandrindon pasangan yang terbaik untuk Daisy,” ucap Matthew keras kepala. “Tampaknya mereka saling menyukai.”
          “Ini bukan tentang rasa suka, ini tentang pernikahan!” Puncak kepala Bowman mulai berubah merah. “Kau tahu seberapa banyak yang dipertaruhkan?”
          “Selain taruhan finansial?”
          “Memangnya taruhan apa lagi?”
          Matthew melemparkan pandangan geli. “Cinta putri Anda. Kebahagiaannya di masa mendatang...”
          “Bah! Orang menikah bukan mencari kebahagiaan. Atau jika pun demikian, mereka dengan segera mendapati itu hanya omong kosong.”

* Benak Daisy berpacu ketika ia menatap sosok Matthew yang keras. Ini bukan hanya sekedar sikap keras kepala. Ini adalah kepercayaan. Pria itu tidak membuka ruang untuk berargumentasi, tidak ada jalan untuk negosiasi.
          “Kalau begitu, bolehkah aku menemui Llandrindon?” tanya Daisy, berharap dapat memanas-manasi Matthew.
          “Ya.”
          Daisy memberengut. “Coba kau bisa konsisten. Beberapa menit yang lalu kau siap mencincangnya.”
          “Kalau kau menyukai dia, aku tak punya hak untuk menghalangi.”
          “Kalau kau menyukaiku, kau punya hak untuk mengatakan sesuatu!” Daisy berderap menuju pintu. “Mengapa semua orang selalu berkata wanita tidak berpikir logis padahal pria seratus kali lebih tidak logis? Mula-mula mereka mau sesuatu, kemudian tidak lagi, sekarang mereka membuat keputusan tak masuk akal berdasarkan rahasia yang tak ingin mereka jelaskan dan tak boleh ada orang yang mempertanyakannya karena kata-kata seorang pria adalah mutlak.”

* Matthew adalah satu-satunya pria yang menyukai ia apa adanya. (Meskipun ia mengesampingkan Llandrindon, berhubung ketertarikan pria itu muncul amat cepat dan mungkin akan menghilang dengan cepat juga.)
          Dalam situasi ini, pikir Daisy, kehidupan perkawinan dengan Matthew tidak akan sama seperti Lillian dengan Westcliff. Sebagai dua pribadi berkemauan kuat dengan pandangan hidup yang berlainan, Lillian dan Westcliff sering bertengkar dan bermusyawarah... tetapi tampaknya hal itu tidak melemahkan perkawinan mereka. Malah sebaliknya – pernikahan mereka tampaknya menjadi lebih hidup.
          Ia memikirkan kehidupan perkawinan para sahabatnya... Annabelle dan Mr. Hunt sebagai penyatuan dua kepribadian yang sama... Evie dan Lord St. Vincent dengan sifat yang saling bertolak belakang, masing-masing diperlukan oleh yang lain seperti siang dan malam. Sungguh sulit mengatakan yang mana diantara mereka yang lebih berkuasa.
          Meskipun ia sering mendengar gagasan tentang bagaimana kehidupan perkawinan ideal, hal semacam itu mungkin tak pernah ada. Mungkin setiap pernikahan adalah sesuatu yang unik.
          Pemikiran itu membuatnya tenang.
          Dan memenuhi Daisy dengan harapan.

* Daisy amat ingin menembus rahasia yang disimpan pria itu dengan keras kepala. Ia bisa gila kalau terus menerus penasaran ingin mengetahui rahasia pria itu. Hubungan mereka seperti cerminan teori Hegel... sesuatu selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu yang lain, tak pernah mencapai kesempurnaan.

* Tubuh Matthew mungkin tidak akan pernah dapat ditemukan. Kenyataan itu terlalu kejam, ia harus menerima takdir. Entah mengapa ketiadaan jasad terasa lebih buruk daripada kematian itu sendiri – seakan-akan orangnya tidak pernah ada, tak meninggalkan apa pun untuk ditangisi, ia dulu tak dapat mengerti mengapa ada orang yang ingin melihat jasad orang yang dikasihinya. Sekarang ia paham. Itu adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri mimpi buruk yang nyata dan mungkin menjadi pelepas bagi air mata dan rasa sakitnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar